
"Sayangku yang ganteng!" seru Rena sambil menggendong Olvi dan mencium anak itu. "Maukah kamu makan ayam lagi lain kali?"
Olvi terlebih dahulu menggelengkan kepalanya, namun kemudian ia mengangguk cepat. "Ya, aku masih suka ayam. Tetaplah Mami disini untuk makan siang bersama, aku akan membelikan Mami ayam yang enak."
"Terimakasih banyak," ucap Rena sambil tersenyum dan mencubit pipi anak itu. "Maaf sayang, Mami tidak bisa makan siang bersamamu hari ini. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus Mami lakukan hari ini."
"Apa itu lebih penting daripada ayam?"
"Kamu tahu Mami menyukai ayam," jawab Rena berhenti sejenak dan tersenyum lagi. "Aku punya janji bertemu dengan orang yang sangat penting, kamu akan mempunyai Papi angkat, bukankah itu penting?"
"Lebih penting mana kalau di bandingkan dengan aku?"
"Kamu juga penting, Sayang."
Olivia memandang Dokter Lay tanpa sadar, namun wanita itu merasa bingung ketika pria itu menunjukkan ekspresi datar yang sulit ditebak.
Tanpa diduga, Dokter Lay tiba-tiba menoleh ke arah Olivia dan mengatakan. "Nona Olivia, saya pamit undur diri dan akan datang menemui Anda besok lagi."
Olivia tersenyum dan mengangguk. "Ah baiklah, terimakasih Dokter Lay."
__ADS_1
Wanita itu meminta maid mengantar Dokter Lay keluar.
Namun, setelah dokter Lay pergi, senyum di wajah Rena perlahan memudar menjadi kesedihan.
Rena bangkit dan berdiri di dekat jendela sejenak, sebelum akhirnya melihat ke belakang setelah mobil dokter Lay menghilang.
Olivia membelai kepala Olvi dengan lembut dan memintanya untuk turun ke bawah dan mengambilkan segelas jus untuk Rena.
Setelah Olvi pergi, tersisa Olivia dan Rena di dalam kamar. Akhirnya, Olivia bertanya dengan lembut. "Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kamu dan Dokter Lay?"
Rena merasa hampa dan tak sanggup berkata apa-apa. Tiba-tiba, ia berbaring di samping Olivia dan sedikit bersandar ke bahu sahabatnya, lalu memeluk Olivia erat.
Rena menenggelamkan wajahnya di lengan Olivia, selama beberapa saat Rena hanya mengeluarkan napas berat.
"Ada apa Rena?" tanya Olivia dengan lembut. "Kamu bisa cerita padaku, jika kamu mau."
Rena menghela napas panjang dan menjawab dengan suara parau. "Aku melihat dia dan istrinya kemarin siang."
Olivia tahu siapa yang Rena maksud.
"Aku benar-benar kesal karena dia memulai hidup baru dengan bahagia, tapi aku masih tidak bisa melupakannya dari ingatanku! Itu sangat tidak adil!" ucap Rena dengan suara bergetar—ingin menangis.
__ADS_1
Olivia merasa simpati pada Rena dan memeluknya erat. "Aku tahu perasaanmu Rena," balas Olivia dengan lembut. "Tapi kamu harus ingat bahwa dia sudah menikah. Meskipun sulit, kamu harus mencoba untuk melupakan dia dan fokus pada hidupmu sendiri. Kamu layak mendapatkan kebahagiaanmu juga."
Rena mengangguk perlahan, menyadari bahwa Olivia benar. Meskipun sulit untuk melepaskan perasaannya terhadap Dokter Lay, Rena harus memahami bahwa hubungan mereka telah berakhir dan sekarang waktunya untuk mencari kebahagiaan baru.
"Dokter Lay menikah dengan orang lain menunjukkan bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih baik untukmu."
Olivia mencoba menghibur Rena, namun dalam hatinya, ia tahu betapa sulitnya meninggalkan seseorang yang dicintai. Meskipun banyak pria yang tertarik padanya, Olivia sendiri tak yakin bisa dengan mudah melupakan seseorang yang telah mengisi hatinya.
"Makasih sudah ada untukku, Olivia," ucap Rena, tersenyum lemah.
"Tidak perlu berterima kasih, Rena. Aku selalu ada untukmu," jawab Olivia, memeluk Rena kembali dengan erat.
Olivia mengetahui bahwa Dokter Lay, tak benar-benar melepaskan Rena sepenuhnya, setidaknya, pria itu masih memiliki perasaan terhadap Rena.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~