Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 123


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan tengah malam, saat mereka pulang ke kediaman Presiden.


Para maid yang masih bangun di mansion menyambut mereka di pintu utama.


Olivia keluar dari mobil lalu menyuruh para maid beristirahat dan para maid kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.


Olivia yang sangat khawatir dengan Olvi, langsung mengganti sepatunya dengan terburu-buru.


Lalu, Olivia bergegas naik ke lantai atas tanpa mempedulikan kerapian pakaiannya. Sementara Alio, berjalan mengikutinya.


"Dia tidur…," ucap Alio memberitahu Olivia ketika wanita itu mendorong pintu kamar Olvi.


"Apa yang terjadi?" tanya Olivia kemudian.


"Dia masuk angin," jawab Alio cepat.


"Lalu, apakah Olvi demam atau batuk!? Dan juga, apa Dr. Lay sudah memeriksanya? Tenggorokan Olvi meradang setiap kali dia masuk angin," ucap Olivia sangat cemas.


Melihat Olivia yang khawatir, Alio pun langsung menjelaskan pada wanita itu.


"Dokter Lay sudah memeriksa dan mengobati Olvi, dia bilang Olvi akan membaik setelah tidur nyenyak."


"Benarkah?"


"Iya."

__ADS_1


"Syukurlah," ucap Olivia yang sangat lega setelah mendengar penjelasan Alio.


Setelah itu, Olivia masuk pelan-pelan ke dalam kamar Olvi. Wanita itu tak menyalakan lampu tapi dibawah sinar bulan yang menerangi dari luar jendela, ia berjalan ke tempat tidur.


Olivia duduk disisi tempat tidur dan mendengar suara nafas Olvi, rasa rindunya selama lima hari terakhir akhirnya terbayar.


Faktanya, Olivia hanya bisa bertahan selama beberapa hari, ia akan menjadi gila jika tak melihat Olvi lebih lama lagi.


Olivia dengan hati-hati menyentuh kening putranya dan merasakan suhu normal, lalu ia menghela nafas lega.


Keterampilan medis Dokter Lay selalu baik, berurusan dengan flu kecil tentu bukan masalah baginya.


Olivia memeluk Olvi sebentar sebelum meninggalkan kamar putranya, lalu ia kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi.


Setelah pergi beberapa hari, para maid masih menjaga kamarnya tetap bersih dan rapi.


Saat pria itu menggendong Olivia di pundaknya, Olivia hampir kehilangan akalnya karena marah, jadi ia mungkin menyakiti Alio dengan pukulannya.


Luka-luka Alio masih dalam tahap penyembuhan, setelah tindakannya yang ceroboh, luka-luka itu mungkin terbuka lagi.


...—oOo—...


Sementara di sisi lain.


Alio berdiri di depan cermin ukuran besar, ia mengerutkan kening saat melepas bajunya.

__ADS_1


Benar saja, sudah ada noda darah di kemeja putih itu, lalu Alio menyerong ke samping untuk melihat bagian punggungnya yang terluka.


Alio hampir tak melihat kalau luka di punggungnya itu berdarah.


Wanita itu benar-benar kasar! batin Alio.


Sekarang sudah larut malam, semua maid dan butler sudah beristirahat, menurut Alio mengobati luka di punggungnya tidaklah mudah.


Namun, Alio tak punya pilihan lain selain mengobatinya sendiri.


Alio pun mengambil kain kasa dan gunting dari laci hendak mengobati lukanya, lalu beberapa saat kemudian ia mendengar suara ketukan di pintu.


"Siapa?" tanya Alio.


"Ini aku," jawab Olivia datang dari balik pintu.


Dibandingkan dengan teriakannya di area tempat tinggal Rena, sekarang suara wanita itu terdengar jauh lebih lembut.


Di depan Olivia, Alio tak perlu menyembunyikan lukanya.


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2