
Oh my god, habislah sudah, ini gawat. Pikir Olivia dalam hati ketika Alio dengan santainya masuk ke dalam mobil sewaannya dengan Olvi.
"Kenapa kamu tiba-tiba masuk? Orang-orang bisa salah paham!!" ucap Olivia dengan panik sambil berbisik.
Alio memperhatikan film yang tengah diputar sekarang dengan sungguh-sungguh.
Jelas terlihat bahwa ini adalah kali pertama Alio menonton film tersebut, karena pria itu memiliki sedikit waktu untuk menikmatinya. Setelah mendengar pertanyaan panik dari Olivia, Alio sedikit memalingkan wajahnya dan menatap Olivia dalam-dalam selama beberapa saat.
"Aku khawatir dengan Putraku," ucap Alio pada akhirnya.
"Tapi kamu tidak bisa seenaknya seperti ini!" celetuk Olivia masih berbisik, namun Alio diam seribu bahasa. Sikapnya yang acuh tak acuh dan tak terduga berhasil membuat Olivia kehabisan kata-kata.
Olivia menyadari bahwa kedatangan Alio sekarang mungkin terkait dengan kekhawatiran Alio mengenai keracunan yang dialami Olvi beberapa waktu lalu. Menurut Olivia, Alio sangat khawatir kalau kejadian tersebut terulang kembali.
"Papa!" seru Olvi ketika menyadari kehadiran Alio, lalu dia segera memeluk Alio penuh kerinduan. "Kapan Papa pulang? Aku sangat merindukanmu," keluh Olvi manja dalam pelukan Alio.
"Baru saja Papa pulang, dan tiba-tiba teringat kamu. Jadi Papa cepat-cepat datang kesini untuk melihatmu," jawab Alio.
"Wah, benarkah?" mata Olvi berbinar bahagia.
Alio mengangguk.
__ADS_1
"Lain kali, jangan biarkan dia sembarangan makan lagi," ucap Alio pelan pada Olivia, hanya wanita itu yang bisa mendengarnya.
Ini adalah peringatan kecil untuk Olivia.
Olivia mengangguk.
Kemudian, mata Olivia terpaku pada layar film untuk waktu yang lama, dan keduanya terdiam. Jujur saja, saat ini Olivia kesulitan berkonsentrasi.
Olivia menoleh ke samping dan melihat Alio tertidur pulas di dalam mobil.
Tampaknya, Alio benar-benar sulit tidur nyenyak karena kesibukannya sebagai seorang Presiden. Seorang pemimpin negara yang harus menangani banyak pekerjaan!
...—oOo—...
Saat ini hampir memasuki musim dingin, sehingga hari-hari terasa sangat dingin, terutama pada malam hari.
Sayangnya mobil ini tak dilengkapi dengan mode pemanas, sehingga mudah terserang flu jika tertidur seperti ini. Olivia tak banyak berpikir, ia melepas jaketnya dan meletakkannya di atas Alio.
Namun, saat mantel itu menyentuh kulit Alio, suaranya terdengar malas dan berat saat ia berkata. "Ambil kembali!"
Menurut Olivia, perintah tersebut masih terdengar menyebalkan.
__ADS_1
Alio membuka matanya dan menatap Olivia, meskipun mengantuk, ia masih sadar. Olivia tak berharap Alio terbangun seperti ini, ia hanya berniat menghangatkan Alio. "Kamu hangatkan dirimu saja, aku tidak merasa kedinginan."
Selama bertahun-tahun, ini adalah pertama kalinya Alio melihat seorang wanita melepas jaketnya untuk melindunginya dari hawa dingin.
Perasaan dihargai seperti ini luar biasa!
Alio selalu bersikap acuh tak acuh terhadap wanita.
Sejak lahir, pria itu diberi tujuan hidup dalam posisi ini. Semua yang ia miliki sekarang, ia perjuangkan dengan semua kekuatannya dan pikirannya tentang menguasai dan mengatur urusan negara.
Memiliki seorang wanita bagi dunianya sudah lebih dari cukup. Namun sekarang, wanita di depannya membuatnya merasa ... Sepertinya ada sesuatu yang berbeda ... seperti perasaan dihargai.
Lalu, Alio tersenyum senang.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~
__ADS_1