Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 307


__ADS_3

Lalu, Olivia tersenyum ramah saat ia berada di depan kamera.


"Saya adalah anggota keluarga dari salah satu pasien. Saya merasa sangat terhormat karena bisa bertemu dengan Pak Presiden," jelasnya.


Para wartawan pun kecewa, saat mereka tahu jika Olivia tak bisa memberikan gosip yang menarik.


Alio terlihat lebih dingin dari sebelumnya, pria itu tak mengatakan apa-apa, tapi melirik Olivia dengan dingin, lalu melirik Arnold.


Jantung Olivia berdegup kencang, lalu Arnold dengan mudah membantunya keluar dari kerumunan. Setelah Olivia pergi, perhatian media kembali beralih pada Alio.


Alio terlihat sangat kesal, bahkan lebih dari sebelumnya. Suasana hatinya tampak buruk, jauh lebih buruk dari sebelumnya.


Di hadapan media, Alio tidak mengatakan apa-apa dan berjalan menuruni tangga dengan wajah dingin.


Olivia tak melihat ke belakang dan berkata kepada Arnold. "Terima kasih atas bantuannya tadi, tolong berikan koperku." 


"Kak Olivia masuk saja ke dalam mobil, aku akan membawa koper kakak," balas Arnold.


"Jangan!" Olivia bersikeras mengambil koper dari tangan Arnold. "Semua orang tahu bahwa kamu adalah sekretaris pribadi Presiden. Para wartawan memiliki penciuman yang kuat, mereka bisa saja mengungkapkan hubunganku dengan Alio. Aku tidak mau merepotkan pria itu, jadi kembalilah padanya."


Arnold merasa lega. "Jika Kak Alio tahu bahwa kak Olivia masih sangat peduli padanya, dia pasti akan senang mendengarnya."

__ADS_1


Olivia tersentak dan mendongak. "Oh ya, aku belum punya kesempatan untuk mengucapkan selamat padanya. Tolong sampaikan padanya nanti ya, Arnold."


"Dalam hal ini, aku pikir akan lebih baik jika Kak Olivia sendiri yang mengatakannya."


Arnold merinding dan bisa menebak apa yang akan terjadi bila ia mengatakan ini pada Alio.


"Nenek dan juga Ayahku sudah menungguku di mobil." Olivia melirik ke arah sebuah mobil yang diparkir di sisi jalan. "Kalau begitu, aku duluan."


"Oke. Sampaikan selamat untuk Tuan Stein, kerena bisa melewati masa kritis ini."


"Oke, akan ku sampaikan itu."


Arnold memperhatikan Olivia yang pergi lalu kembali ke kerumunan. 


Pria itu masuk ke dalam mobil dan Arnold duduk di sebelahnya.


Keduanya saling berhadapan, Alio diam-diam membaca beberapa artikel tentang dirinya di internet.


Setelah beberapa saat, Alio terlihat santai dan bertanya. "Apa yang kalian bicarakan tadi?"


"Hmm," gumam Arnold sambil menatap Alio dengan wajah bingung.

__ADS_1


Alio mengerutkan kening, terlihat tak puas dengan tanggapan adiknya yang lambat.


Arnold tiba-tiba tersadar, "Apakah kakak baru saja bertanya apa yang aku bicarakan dengan kak Olivia?"


Alio tak mengakui atau membantahnya, hanya miring ke depan dan duduk tegak. Pandangannya terus tertuju pada iPad di tangannya. Seperti jawabannya, ia tak terlalu peduli. Namun, jika ia sama sekali tak peduli, ia tak akan mengajukan pertanyaan.


"Kak Olivia sempat berbicara denganku, tapi aku tidak berani memberitahu kakak," ucap Arnold.


Alio mendongak dan mengangkat alisnya, menunjukkan rasa penasaran.


Arnold tersentak dan bertanya. "Apakah kakak benar-benar ingin tahu?"


"Iya, katakan saja," jawab Alio sambil mantap adiknya.


"Tapi, kakak jangan marah," ucap Arnold dengan hati-hati. "Kak Olivia meminta saya untuk memberikan selamat atas pertunangan kakak."


Alio tampak tidak mengerti, lalu matanya menatap dingin pada Arnold. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara yang tajam. "Ulangi lagi!"


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2