
Saat menatap mata Alio bulu mata Olivia bergetar dan jantungnya berdebar sangat kencang sehingga lupa mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Alio tiba-tiba memecahkan keheningan. "Sebelumnya, kau hanya ingat rasa sakitnya?"
"Apa?" Olivia tak mengerti.
"Malam itu, sepertinya ... aku ingat lebih dari yang kau ingat." Alio menjawab dengan suara rendah dan terdengar ambigu.
DEG!!
Olivia tersentak setelah mendengar perkataan Alio dan sekarang wajahnya memerah karena sangat malu.
Jadi, maksud pria ini, dia masih ingat malam yang sangat menggairahkan itu?
Olivia tak berani bertanya, tangannya masih berada di pundak Alio dan dengan cepat melepaskan diri dari pria itu. Olivia tak berani menanggapi kata-kata Alio yang kini duduk di disampingnya.
Bahkan tanpa melihat pria itu, Olivia bisa merasakan mata Alio meliriknya sejenak yang membuat Olivia merasa tak nyaman.
Detak jantung Olivia tak karuan, suhu di dalam mobil jelas-jelas dingin tapi Olivia merasa kepanasan.
Apa maksud pria ini mengatakan hal semacam itu padaku? batin Olivia sedikit panik.
Saat ini, Alio masih menatapnya. Olivia menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pembicaraan.
Akhirnya, pria itu hanya tersenyum samar sambil membalik dokumen.
Olivia ingat, sepertinya semua kenangan malam itu tak semuanya menyakitkan.
__ADS_1
...-oOo-...
Mobil melaju sampai ke mansion dan setelah perjalanan panjang akhirnya mereka pun sampai.
Dan saat mobil berhenti, para maid keluar untuk menyambut kedatangan mereka.
Olivia tertidur di dalam mobil dan saat Sebas ingin membangunkannya, Alio segera menahannya dan menggendong Olivia.
Sebas terkejut, tapi ia mengerti itu.
Alio membopong Olivia langsung ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Terlihat Olvi duduk di meja belajar dan sedang mengerjakan Pr-nya.
Lalu, Olvi mengangkat kepalanya yang kecil karena mendengar adanya sedikit keributan.
Karena Olvi selalu saja memanggil Alio dengan sebutan 'Om' entah kenapa Olvi benar-benar tak merasa takut pada Alio yang seorang Presiden.
Alio menatap putranya dengan tatapan serius lalu berkata. "Panggil Papa."
Olvi menjawab dengan canggung. "Ya, Pa...pa."
"Olvi Wilson, kenapa kau menahan diri?" pria itu ingin tertawa saat melihat putranya agak malu memanggilnya dengan sebutan papa.
Walaupun putranya masih merasa tak takut dan sedikit kurang ajar padanya, Alio tak melakukan apa pun untuk memperbaikinya.
Tapi ... di depan orang lain, Olvi tak boleh berani melakukan itu tanpa tata krama.
__ADS_1
Si kecil tak menanggapi, lebih tepatnya ia tak peduli, Olvi naik ke tempat tidur untuk membantu membuka satu sisi selimut sambil mengeluh.
"Mama bau sekali, kan?!"
Alio menatap putranya dengan alis terangkat namun tak menjawab.
Pria itu menempatkan Olivia dengan hati-hati di tempat tidur, lengan yang ramping wanita itu terlepas dari bahunya dan Alio bisa mencium baunya.
Seperti yang dikatakan bocah kecil itu, Olivia sangat harum, sama seperti lima tahun yang lalu.
Aroma ini sangat khas dan menarik, batin Alio lalu menarik kembali pikirannya.
Pria itu mengelus kepala Olvi dan berkata. "Lebih baik selesaikan dulu pr-mu."
"Oke." Olvi menganggukkan kepalanya dengan patuh dan kembali ke meja belajar.
Anak itu sedang memikirkan sesuatu, ia tak bisa berpikir dengan tenang dan menolehkan kepalanya ke belakang, memandang Alio.
"Papa, apa nanti papa akan menikahi mama?"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~