
Hari ini adalah hari ketujuh Alio berada di luar negri.
Olivia sudah memutuskan, saat Alio pulang nanti, Olivia akan mengakhiri hubungan berbahaya mereka.
Malam terakhir saat mereka membuat kesepakatan, seharusnya malam itu tak pernah terjadi.
Olivia mencoba berpura-pura seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Jika Olvi lebih menginginkan untuk bersama ayahnya, Olivia akan memberikannya.
Dengan pemikiran seperti itu, Olivia berjalan keluar dari gedung Kementerian Luar Negeri, ia merasa tak bersemangat dan hatinya sangat hancur.
Rena menoleh ke samping. "Kenapa kamu terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat?"
"Aku tidak tahu kenapa, perasaanku terasa tidak nyaman," jawab Olivia menghela nafas dan menepuk dadanya. "Itu karena aku mempertimbangkan untuk memberikan Olvi kepada Alio, jadi itu membuat perasaanku sangat tidak nyaman, dadaku juga sangat sesak."
Perasaan itu semakin kuat seolah-olah sesuatu akan terjadi.
"Pasti sangat sulit bagimu untuk memutuskan, kamu tahu? Melepaskan Olvi sama saja membuang sebagian jiwamu."
"Aku tidak menyadarinya, tapi aku tidak punya pilihan selain membahagiakan Olvi," ucap Olivia agak menyesal.
Sekarang taksi sudah datang dan Olivia menyuruh Rena naik terlebih dahulu, Tanpa pikir panjang Rena mengangguk dan kemudian masuk ke dalam taksi dan mobil itu melaju menghilang dari pandangan Olivia.
__ADS_1
Olivia berdiri di sana sendirian sambil menunggu jemputan, ia sudah menghubungi sopir di kediaman Presiden untuk menjemputnya, semakin Olivia memikirkan hak asuh atas anaknya pikirannya semakin bingung.
Tiba-tiba Olivia merasa cemas. Apakah masih ada taksi yang tersedia sekarang?
Saat menunggu jemputan, Olivia melangkah maju sedikit ke depan dan tiba-tiba ... sebuah taksi berhenti tepat di depannya.
"Nona, Anda ingin naik taksi?"
"Iya." Olivia mengangguk dan tanpa pikir panjang ia masuk ke dalam mobil, ia khawatir Olvi akan menunggunya terlalu lama.
Olivia tak menyadari bahwa plat nomor taksi itu palsu dan tak terdaftar, ia juga tak menyadari bahwa sopir taksi itu mengenakan masker dan hanya memperlihatkan matanya setelah duduk di kursi penumpang.
Apalagi, mata itu tampak menakutkan saat menatap Olivia melalui kaca spion.
Olivia terkejut dan ketakutan, rasa bahaya berkeliaran di sekelilingnya, wanita itu mencoba membuka pintu mobil, tapi dengan beberapa upaya pintu itu tak bisa dibuka.
"Usaha yang sia-sia."
Sopir itu menyeringai, ia mengulurkan tangannya untuk menjambak rambut Olivia.
Tiba-tiba Olivia ditarik lebih dekat dengan pria itu, Olivia menjerit dan memberontak, ia juga mencakar leher pria itu hingga leher pria itu mengeluarkan darah segar.
Namun, sudah terlambat untuk Olivia menjerit atas rasa sakit dari kekerasan yang ia dapatkan dan saat berikutnya ... hidung dan mulutnya ditutupi dengan handuk basah.
__ADS_1
Bau yang menyengat membuatnya merasa pusing dan Olivia merasa mati rasa di awalnya, Olivia masih berjuang beberapa kali untuk tetap sadar, tetapi kemudian dia kehilangan tenaga dan kesadarannya.
Siapa pria ini?
...—oOo—...
Disisi lain, saat tengah malam...
Alio turun dari pesawat, lalu handphonenya bergetar.
Pria itu mendapatkan telpon dari putranya.
"Papa, Mama pasti sudah meninggalkan kita," ucap Olvi sambil menangis.
Alio mengerutkan kening. "Apa yang sudah terjadi?"
"Mama bilang, Mama akan pulang malam ini, tapi Mama belum pulang sampai sekarang. Ini sudah hampir tengah malam, saat aku menelponnya Mama tidak menjawabnya. Tapi, saat aku mencoba melacak lokasi Mama aku menemukan lokasi handphonenya, Om Sebas bilang itu ada di tempat yang sangat sangat jauh dan terpencil."
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~