
Bukannya menjawab, Alio malah balik bertanya. "Mengapa kamu tiba-tiba bertanya?"
"Aku tahu kalau mama menyukai calon Om ku nanti, aku hanya tidak ingin mama bersedih," kata Olvi menjelaskan.
Alio agak terkejut, putranya ini secara tak terduga ternyata tahu segalanya.
Pria itu melirik Olivia yang tidur tampak sangat nyenyak dan nyaman di tempat tidur, lalu berkata. "Jika Papa menikahinya, itu tidak akan merubah situasinya. Papa pikir, jika dia merasa sedih biarkan calon Om mu yang menikahinya. "
Olvi cemberut dan menatap Alio dengan keras kepala. "Tapi aku lebih menyukai papa!"
Alio memiliki tekad yang kuat, mata polos putranya itu menatapnya seperti permohonan yang membuatnya tak bisa menolak.
Tapi......
"Aku tidak akan menikahinya!" Alio kembali dengan tekadnya tanpa basa-basi.
Olvi langsung kecewa dan bertanya. "Kenapa?"
Alio tak menjawab, menurutnya putranya itu tak perlu memahaminya, akhirnya pria itu melangkah keluar tanpa menjawab pertanyaan Olvi dan sebelum menutup pintu Alio melirik ke arah tempat tidur Olivia sejenak.
Beberapa saat kemudian, pintu ditutup dan tak ada aktivitas di dalam kamar selama beberapa saat.
__ADS_1
Olivia perlahan membuka kelopak matanya dan memastikan kalau pria itu sudah pergi jauh sebelum ia bangun dan duduk di tempat tidur.
"Kamu membuat mama merasa sangat malu di depan Papamu! Kamu tahu kenapa? Mama tidak pernah bilang kalau mama akan menikahinya!" ucap Olivia kesal.
Olvi mengalihkan pandangannya dengan wajah tak bersalah tanpa dosa. "Tidak ada yang bisa membantu Mama untuk membalaskan rasa sakit mama, hanya Papa yang bisa. "
Olivia menghela nafas berat. "Mama baik-baik saja Olvi."
"Baik?" sahut Olvi dengan alis mengernyit dan wajah ragu.
Bagaimana dengan pengkhianatan itu? Om Yuta diambil oleh adiknya sendiri dan itu adalah hal yang sangat buruk! batin Olvi dengan hati terluka.
Olvi berpikir akan sangat bagus jika Mamanya bisa menikah dengan seorang Presiden.
Akhirnya mata Olvi menatap ke ibunya dengan penuh binar dan semangat. "Kita akan mencoba yang terbaik, aku akan membuat Papa menikah dengan mama!"
Olivia tahu apa yang Olvi pikirkan, Olvi hanya ingin memiliki keluarga yang lengkap seperti anak-anak lain.
Tapi......
"Sayang, Papamu itu Presiden kita, Papamu bukan orang biasa. Jadi… mari kita menyerah untuk ini, ya?"
__ADS_1
Olivia membelai kepala anaknya itu dengan lembut dan membujuknya, ia tak tahan melihat kekecewaan anak itu.
Kemudian, Olivia bangkit dan membawa piyamanya ke kamar mandi.
Menikah dengan seorang Presiden negara ini? Olivia bahkan tak pernah membayangkannya.
Pernikahan presiden sebelumnya saja sangat istimewa, bagaimana orang biasa seperti Olivia bisa memiliki pemikiran itu?
Saat Olivia memikirkannya di dalam kamar mandi, pikirannya tak bisa membantu karena yang muncul hanya pikiran yang ambigu.
Detak jantung Olivia berdegup kencang, telapak tangannya memegangi dadanya, berusaha untuk tenang.
Tidak mungkin! Tidak mungkin! Olivia, tidak boleh berpikir seperti itu lagi! Pria itu tidak mungkin menyukaimu!
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~