Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 144


__ADS_3

Jika Olivia benar-benar tertular virus, yang bisa ia lakukan sekarang adalah menghindari kontak dengan Pak Presiden dan putranya, Olvi.


Selain itu…


Olivia harus pergi secepat mungkin untuk menjalani pemeriksaan fisik lengkap.


Alio dan Olvi tak menganggap serius alasan Olivia dan melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa.


Di lantai atas, Olivia mengenakan pakaiannya, memakai masker dan bergegas turun.


"Nyonya Olivia," ucap Sebas menyapanya.


Olivia menutupi hidungnya dan melangkah mundur dengan hati-hati. "Pak Sebas, saat tuan muda pulang di sore hari, tolong bilang padanya kalau saya tidak akan pulang selama beberapa hari dan tolong jagalah dia untuk saya."


"Ada apa, Nyonya? Kenapa Anda terburu-buru?" tanya Sebas saat melihat wajah Olivia yang tegang dan pria itu tampak khawatir.


Olivia menggelengkan kepalanya, lalu bergegas keluar dari kediaman Presiden.


...—oOo—...


Olivia langsung bergegas pergi ke rumah sakit tanpa berhenti karena demamnya semakin memburuk.


Saat Olivia duduk di taksi, segala sesuatu di luar jendela tampak buram dan ia juga mengalami ilusi, ia tak bisa fokus pada objek tertentu.

__ADS_1


Olivia menjadi khawatir saat suhu tubuhnya meningkat semakin tinggi, ia bersandar di kursi belakang, pikirannya penuh dengan Alio dan putranya, ia sangat takut dibawa ke bangsal isolasi dan tak bisa bertemu mereka untuk waktu yang lama.


Wanita itu juga takut mereka akan tertular karenanya.


"Nona, kita sudah sampai," ucap sopir taksi membuat Olivia tersadar dari pikirannya.


Setelah membayar ongkos, Olivia turun dari taksi dengan susah payah dan wanita hampir tak bisa berdiri.


Rumah sakit sudah dekat.


Sangat menyiksa saat mengantri untuk pendaftaran, apalagi dengan kondisinya yang buruk.


"Olivia?"


Saat Olivia merasa putus asa dan akan menyerah, sebuah suara yang tak asing dengan kekhawatiran tiba-tiba terdengar.


Yuta berlari dari jarak 10 meter.


Mata Olivia buram, ia mencoba menjawab pria itu. Meskipun bibirnya yang kering bergerak, suaranya sangat serak sehingga ia tak bisa memanggil nama Yuta.


"Ini sungguh kamu!" ucap Yuta saat menghampiri Olivia, pria itu menatap Olivia dengan khawatir. "Kamu kenapa?"


Setengah dari wajah Olivia ditutupi oleh masker.

__ADS_1


Tapi Yuta masih bisa mengenali wanita itu sekilas di tengah kerumunan, meskipun fakta bahwa mereka sudah sangat lama putus, this amazing!


Olivia menggelengkan kepalanya dan tubuhnya tampak agak gemetar dan goyah.


Yuta melangkah maju dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah wanita itu. "Olivia, apakah kamu baik-baik saja?"


"Kamu … menjauhlah dariku!" Olivia mendorong Yuta menjauh. "Jangan terlalu dekat denganku!"


Melihat kondisi Olivia, Yuta mengerutkan kening dan langsung menggendongnya ala bridal style tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Yuta tunggu!" Olivia meronta. "Turunkan aku! Aku mungkin tertular virus!"


"Jangan bicara yang enggak-enggak!" balas Yuta menatap wanita itu, lalu melanjutkan dengan tegas. "jika kamu benar-benar tertular, aku akan menemani kamu."


Mata Yuta yang serius hampir menembus hati Olivia dan wanita itu cukup terkejut.


Setelah itu, Olivia tiba-tiba merasa kesal dan memukuli pria itu dengan tinju. "Hentikan! Apakah kamu pikir ... ini penyakit biasa seperti pilek? Orang yang tertular bisa mati! Yuta, lepaskan aku sekarang!"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2