
Pria itu belum mengalihkan pandangannya, selama bertahun-tahun, para maid dan butler lah yang melayani dan mengurusnya.
Saat Alio masih kecil, tak ada orang lain selain ibunya yang memasak untuknya.
Sebagian besar wanita yang Alio kenal seperti Nona Scarlett, manja dan tak bisa melakukan pekerjaan rumah. Karena mereka bermartabat, mereka anggun, tapi mereka juga sangat membosankan.
Saat Alio memikirkannya, Olivia datang dengan semangkuk bubur.
Kemudian, wanita itu dengan sangat hati-hati mengangkat kepala Alio sedikit lebih tinggi dengan bantal.
Olivia menyendok bubur, karena bubur itu sedikit panas wanita itu meniupnya dengan hati-hati.
"Apa ini?" tanya Alio sambil melihat bubur di tangan Olivia.
"Bubur ayam, meskipun tidak sebanding dengan sup mewah yang biasa kamu makan, bubur yang aku buat rasanya juga lumayan," jawab Olivia sangat bangga saat ia memuji masakannya sendiri.
"Benarkah?"
"Iya. Setiap kali Olvi masuk angin dan merasa tidak enak badan, aku selalu memasak ini untuknya. Dan kemudian anak itu mendapatkan energinya lagi setelah memakannya."
Olivia terlalu melebih-lebihkan karena bagaimanapun juga bubur bukan obat yang mujarab.
Namun, melihat Olivia pamer, Alio tak mengatakan apa pun untuk menegurnya.
__ADS_1
Sebenarnya, Alio benar-benar ingin mencoba. Baru saja ia tak memiliki nafsu makan, namun setelah mencium aroma bubur, ia menjadi sangat lapar.
"Tunggu sebentar, izinkan aku mencoba dulu kalau-kalau mulutmu terbakar karena panas."
Olivia tampaknya bergumam pada dirinya sendiri dan tanpa sadar menjilat bubur di sendok.
Setelah itu, wanita itu langsung membeku sejenak.
Apa yang aku lakukan? Aku sering memberi makan Olvi dengan cara ini dan akibatnya itu menjadi kebiasaan!
Kemudian Olivia mengangkat kepalanya dan menatap Alio. "Maaf, aku kebiasaan begini. Tunggu sebentar, aku akan pergi ke dapur untuk mengambil sendok lagi."
Ketika mengatakan itu, Olivia segera bangkit dari tempat duduknya.
Wanita itu berbalik dan dengan ragu menatap Alio. Setelah itu, Alio meraih tangan Olivia yang memegang sendok dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Alio membuka mulutnya dan memakan semua bubur di sendok. Sepertinya …. pria itu tak keberatan sama sekali.
Setelah makan, Alio bahkan meninggalkan komentar. "Rasanya tidak buruk."
"Kamu … bukankah kamu menderita mysophobiakan?"
Alio tampak tenang. "Kau dan aku sudah berciuman sebelumnya. Mengapa kau berpikir kalau aku akan peduli dengan hal-hal sepele ini? "
__ADS_1
Olivia malu, Alio berbicara tentang masa lalu itu dengan penuh percaya diri dan masuk akal tanpa malu.
Namun, saat berikutnya Olivia teringat sesuatu, lalu mendengus. "Bukankah Pak Presiden melupakan hal sepele itu, mengapa harus mengungkitnya lagi?"
"Mungkin ingatanku pulih saat ledakan."
Apa yang Pria itu katakan sangat acuh tak acuh, membuat hati Olivia sedikit sakit.
Olivia memberi Alio makan satu sendok bubur lagi, ia tak bisa menahan diri dan bertanya. "Apakah kamu merasakan sakit?"
Suara itu sangat lembut, membuat jantung Alio berdetak kencang dan ia mengangkat kepalanya untuk menatap Olivia.
Kesedihan di mata wanita itu belum memudar dan masih melekat di matanya yang lembut, seperti rasa rindunya terhadap seseorang, Olivia begitu menawan.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1