Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 108


__ADS_3

"Membantuku? Aku pikir kamu hanya ingin mencari kesempatan dalam kesempitan!'' Olivia dengan marah mengayunkan tongkat golf seolah-olah ingin memukul Lucas.


Olivia takut Alio akan salah paham dengan hubungan ia dan Lucas? Tapi ... sebenarnya, ini tak ada hubungannya dengan Alio!


Bagaimana bisa Alio Wilson, seorang Presiden yang super sibuk, peduli dengan hal-hal sepele seperti ini?


Lucas berseru dengan lebay dan melarikan diri. "Kamu sepertinya … benar-benar dalam keadaan yang baik!"


"Berhenti membicarakan hal itu!" Olivia sangat malu.


Lucas berbalik dan memegang tongkat golf di tangan Olivia, melihat wanita itu jengkel, Lucas merasa Lucu dan berkata. "Jangan marah! Kenapa tidak memelukku saja? Sebenarnya, aku juga dalam keadaan yang baik. Apakah kamu tidak ingin mencoba? "


Sambil tersenyum, Lucas mengambil tangan Olivia untuk menyentuh dadanya. Olivia benar-benar marah, sementara itu ia merasa agak malu, wanita itu memukul dada Lucas dan berkata dengan kesal. "Aku tidak akan memelukmu, aku tidak mau memeluk orang seperti kamu!"


"Ahahahaha~" Lucas tertawa keras saat ditolak Olivia.


Tawa hangat dan menyenangkan Lucas menembus 20 meter dan langsung sampai ke telinga seseorang.


Arnold mendapati kalau wajah kakaknya menunjukkan ekspresi yang semakin tak bahagia, terutama setelah Tuan Rei pergi bermain golf.


Alio duduk di sana dan seluruh atmosfer tampak dingin membeku.

__ADS_1


"Kak Alio, orang yang sedang bersama kak Olivia … sepertinya dia adik dari Perdana Menteri agung Hansel Taylor."


"Aku tahu." Alio sudah mengenali pria yang bersama Olivia. Meskipun Lucas baru saja pulang dari luar negeri, Alio langsung bisa mengenalinya sekilas.


"Kenapa dia dan kak Olivia begitu dekat? Aku curiga dia tahu hubungan kak Olivia dengan Kakak dan sengaja mendekatinya," sambung Arnold.


"..." Alio diam, bibir tipisnya tertutup rapat. Pria itu bisa dengan jelas mendengar obrolan gembira mereka, tapi sejak saat itu ia tak pernah melihat ke arah mereka lagi.


Arnold benar-benar bingung dengan apa yang dipikirkan Kakaknya itu.


Setelah sekian lama, Olivia lelah dan pergi ke toilet sendirian, saat ia berjalan melewati Alio, ia bisa merasakan kalau mata Yuta menyoroti setiap langkahnya.


Olivia mengabaikan perasaan kesal yang tak bisa dijelaskan di hatinya dan pergi ke toilet.


Setelah mencuci tangannya, Olivia keluar dari toilet dengan kepala yang menunduk sehingga ia menabrak dada kekar seorang pria.


Olivia terkejut.


Saat Olivia mendongak, ia langsung menatap mata Yuta yang dalam.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Olivia tersenyum dan menunjuk ke logo toilet wanita di dinding. "Ini toilet wanita."

__ADS_1


"Aku … sebenarnya aku menunggumu," balas Yuta.


"Menunggu aku?" Olivia benar-benar bingung.


Yuta mengangguk dan menatap Olivia dengan ekspresi yang rumit. "Pria yang bersamamu … dia pacarmu? Terakhir kali kamu mabuk, dia tiba-tiba membawamu pergi, kan?"


Olivia bisa dengan jelas melihat rasa penasaran dan sedih Yuta di wajahnya.


Olivia merasa getir, bagaimanapun, cinta pertamanya adalah yang paling tulus dan menyakitkan.


Jadi, Olivia tak sadar berbohong dan mengangguk. "Ya, aku belum sempat memperkenalkannya secara resmi kepada kamu."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2