
Lucas yang biasanya santai dan acuh tak acuh, jarang sekali mengeluarkan kemarahan seperti ini, lebih jarang lagi berbicara dengan kakaknya yang ia kagumi dan hormati dengan nada seperti ini.
Hansel meletakkan handuknya, tak bisa menahan diri untuk melihat Lucas lebih lama. Setelah terdiam sejenak, ia berkata dengan makna yang mendalam. "Kamu bahkan belum berhasil mendapatkan Olivia, tapi malah terjebak sendiri. Ini bukan hal yang baik, Lucas."
"Apakah kau tahu, kenapa dulu ayah tidak mengizinkanmu masuk ke lingkaran ini? Karena kau memiliki hati yang terlalu lembut, tidak cukup kejam! Karena yang akan terluka nanti pasti kau sendiri, atau orang yang paling dekat denganmu!" ucap Hansel dengan tegas.
Lucas menyeringai sambil menatap Hansel. "Kak, aku balik bertanya sama kamu, kalau sekarang giliran kamu, ada orang yang nyakitin kak Helen seperti Olivia, apa yang akan kamu lakukan?"
Hansel berhenti sejenak, sepertinya pertanyaan Lucas menyentuh titik sensitifnya. Di mata Hansel ada secercah kesuraman, tapi setelah itu ... Hansel tak mengatakan apa-apa dan beranjak keluar kamar mandi.
Saat melewati Lucas, Hansel berkata dengan suara pelan. "Jika ada orang berani sentuh Helena, aku akan membuat dia mati tanpa ada tempat pemakaman!"
...—oOo—...
Sore harinya...
Sorotan senja menghiasi langit, memancarkan keemasan yang menyelimuti seluruh bumi. Istana Putih Presiden juga diselimuti oleh cahaya ke orenan—terlihat semakin megah dan spektakuler.
__ADS_1
Biasanya istana putih presiden tenang dan serius, tak ada yang berani berisik. Namun, saat ini istana Presiden dipenuhi oleh kebisingan.
Berbagai macam kendaraan berjejer menghalangi dan memenuhi jalan di depan istana Presiden.
Para jurnalis dan wartawan dari berbagai media membawa team mereka—menunggu di pintu masuk.
Masyarakat juga ikut berkerumun di depan gerbang untuk menyaksikan.
Pada saat ini, pintu utama istana Presiden perlahan dibuka dari dalam hingga menimbulkan suara yang keras—sukses membuat perhatian semua orang tertuju ke sana.
Di tengah kerumunan, seorang pria tinggi dan tampan yang dikelilingi oleh bodyguard keluar dengan sinar senja yang memancar di sekitarnya.
Menghadapi pemandangan yang kacau ini, pria itu tak terlihat terganggu sedikit pun, malah tersenyum dengan sempurna, memberi salam elegan kepada masyarakat dan para wartawan, lalu melangkah maju.
Namun, para wartawan tak akan melewatkan kesempatan bagus ini. Mereka langsung melemparkan pertanyaan tajam satu demi satu ke arah pria itu tanpa belas kasihan.
"Pak Presiden, bisakah Anda menjelaskan tentang skandal di bus ini?"
__ADS_1
"Ada rumor yang menyatakan bahwa wanita yang terlibat bukanlah Nona Scarlett calon tunangan Anda."
"Pak Presiden, tolong jelaskan!"
"Apakah Anda diancam dan ditekan oleh wanita itu?"
"Apakah Anda telah diperas oleh wanita itu?"
Alio selalu tersenyum, tetapi ketika ia mendengar pertanyaan itu, matanya berubah menjadi dingin dan ekspresi muram melintas sejenak.
Arnold yang ada di samping Alio memperhatikan perubahan ekspresi kakaknya dan langsung memblokir serentetan pertanyaan dari para wartawan. "Maaf semuanya, kami mengerti keinginan tahuan kalian sekarang, tapi seperti yang sudah kami bilang sebelumnya, kami akan menjelaskan masalah ini secara khusus di konferensi pers nanti. Untuk saat ini, Presiden kita ada jadwal lain yang lebih penting, jadi mohon pengertiannya semuanya!"
- Bersambung -
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~