Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 160


__ADS_3

"Tunggu apa?" bisik Alio tepat di telinga Olivia dan bibirnya sengaja atau tak sengaja menyentuh daun telinga wanita itu.


Ketika bibir Alio yang panas dan basah menyentuh telinganya, Olivia merasakan mati rasa dan berusaha menghindar.


Olivia menutup matanya dan mencoba mengatur nafasnya. Setelah beberapa saat, ia kembali membuka matanya dan langsung menatap pria itu. "Anda selalu berada diantara Yuta dan saya. Apakah Anda cemburu pada Yuta?"


Alio melihat Olivia dengan tatapan yang ambigu, Olivia tak bisa menebak apa yang dipikirkan pria itu, tak peduli seberapa keras ia berusaha.


Pria ini selalu berhati-hati dan wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi.


Saat keduanya menolak untuk mengalah, tiba-tiba...


Pintu kamar didorong dari luar hingga terbuka!


Seorang maid berjalan masuk dengan masker yang menutupi separuh wajahnya. "Nyonya Olivia, ini makanan Anda—"


Namun, perkataan maid itu tiba-tiba terhenti saat melihat pemandangan di dalam. "Ah, maaf … maafkan saya, Pak Presiden. Saya tidak tahu Anda ada di sini, saya akan keluar sekarang!" ucap maid itu panik, jadi ia buru-buru menundukkan kepalanya dan berbalik untuk pergi.


Wajah Olivia memerah karena sangat malu.


"Ini semua salah Anda! Saya jadi kehilangan wajah saya sekarang!" ucap Olivia sangat marah sehingga ia menendang pria itu dengan kesal.

__ADS_1


Alio tak lagi mengganggu wanita itu, tapi bangkit dan menjauh dari tubuh Olivia dengan cara yang elegan.


Olivia akhirnya bisa bernafas dengan lega dan ia dengan cepat bangkit dari tempat tidur lalu bersembunyi di dalam selimut seperti bersembunyi dari binatang buas.


Wanita itu berkeringat banyak dari sebelumnya dan ia tak berani menatap Alio lagi.


Dibandingkan dengan kepanikan Olivia, Alio tetap tenang dan santai. Bahkan, jika maid itu baru saja melihat mereka dalam situasi itu, ia akan bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa.


Alio merapikan bajunya dan berjalan kembali ke samping tempat tidur, saat bayangannya mengenai Olivia, wanita itu tanpa sadar mengangkat tangannya untuk menghentikan Alio.


Pada saat yang sama, Olivia menatap Alio dengan waspada, seolah-olah pria itu akan akan memangsanya kapan saja.


Alio mendengus. "Kau benar-benar terlalu percaya diri."


Alio menekan bel di samping tempat tidur dan salah satu staf medis segera menjawabnya.


"Masuklah dan berikan Olivia infus baru! Jangan lupa, minta seseorang untuk membawa makanan!" perintah pria itu.


"Baik," sahut staf medis menutup pembicaraan.


Olivia menurunkan tangannya karena malu.

__ADS_1


Selama beberapa saat, perkataan Alio masih terngiang di kepala Olivia.


'Kau benar-benar terlalu percaya diri.'


Olivia merasa ada suatu makna yang dalam dari ucapan pria itu.


Alio tak hanya menilai tindak yang tak penting, tapi juga menjawab pertanyaan Olivia yang sebelumnya 'Apakah Anda cemburu pada Yuta?'


Olivia merasa agak tertekan dan saat ia menyadari kalau ia mengajukan pertanyaan ini secara tiba-tiba, ia merasa dirinya konyol.


Tak lama kemudian, tim medis datang dengan beberapa maid.


Olivia mengulurkan tangannya dengan tenang untuk dipasang infus.


"Nyonya, sebaiknya Anda tidak melepaskan infus lagi, tangan Anda bengkak sekarang," ucap salah seorang perawat memperingatkan wanita itu dengan ramah.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2