Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 75


__ADS_3

Olivia kesal karena Rena berteriak padanya. Sebenarnya, sangat disayangkan untuk menyerah pada penilaian ini.


Sekarang, Olivia merasa sangat frustasi saat memikirkan magang yang menjadi sia-sia, padahal banyak orang memimpikan pekerjaan itu.


"Lupakan saja, aku ... akan mencari pekerjaan lain."


"Beri aku alasan!"


"..."


Olivia melirik pintu tertutup kamar Alio dan berkata. "Aku punya teman... Tiba-tiba dia sakit parah. Jadi, aku pergi untuk merawatnya."


"Teman? Seorang pria?"


"Ya."


"Orang yang tinggal denganmu?"


"Sebenarnya, kita tidak benar-benar hidup bersama. kita hanya hidup bersama karena dipaksa oleh keadaan. Lebih tepatnya, kita tidak saling mengenal dengan baik..."


"Jika kamu tidak terlalu mengenalnya, kamu tidak akan berhenti dari pekerjaan yang bagus hanya karena dia sakit! Lagipula, bukankah dia punya keluarga? Mengapa dia membutuhkanmu, yang hanya seorang kenalan untuk merawatnya?"


Rena sedikit bingung dengan alasan yang Olivia beri.

__ADS_1


Para maid dan butler di keluarga Wilson sudah bersamanya paling lama 10 tahun, tapi pria itu tak memilih untuk mempercayai mereka melainkan Olivia yang tak terlalu akrab dengannya.


Kenapa?


Apa pria itu percaya padaku?


Tapi ... perasaan dipercaya ini sebenarnya tak buruk.


Olivia mengerutkan bibirnya. "Tidak ada gunanya mengatakan apapun sekarang."


"Aku cuman mau bilang kamu gagal," ucap Rena.


Yah … hasilnya sudah seperti yang Olivia duga.


Rena tak mengerti dengan sikap Olivia, apalagi perkataannya yang terakhir tak bisa memberi tahu Rena alasan sebenarnya.


Olivia mengobrol singkat dengan Rena dan kemudian menutup telepon, setelah itu Olivia membuka pintu dan melihat Alio masih tertidur di kamar.


Setelah menghela nafas lega, Olivia berbalik menuju ke dapur, ia mulai berpikir tentang apa yang harus ia masak untuk membantu Alio pulih lebih cepat.


Dapur dilengkapi dengan banyak bahan-bahan segar, Olivia sedikit lapar dan hanya memasak beberapa mie untuk dirinya sendiri. Saat makan, ia terus berpikir apa yang bisa ia masak.


Alio terluka parah, jadi pria itu lebih baik makan hidangan berbumbu ringan.

__ADS_1


Alio sangat pemilih soal makanan tapi Olivia hanya bisa membuat makanan rumahan yang sangat umum.


Olivia tak yakin apakah Alio akan menyukai masakannya, ia memikirkannya berkali-kali dan akhirnya memutuskan untuk memasak semangkuk bubur ayam.


Menempatkan panci di atas api, Olivia berpikir kalau pria itu bisa makan bubur saat ia lapar setelah bangun.


Setelah selesai memasak, Olivia menelpon Olvi.


"Mama, bagaimana penilaian kinerja Mama?" Suara Olvi yang polos datang dari seberang sana.


"Tidak buruk." Olivia tak ingin membuat Olvi kecewa, jadi ia berbohong.


"Bagus! Aku tahu kalau Mamaku ini pasti bisa menyelesaikan masalah apa pun." Olvi sangat bangga dan merasa respect dengan Olivia.


Olivia merasa sangat senang karena perkataan Olvi, meskipun Olivia tak berpartisipasi dalam penilaian kinerja saat magang, setelah mendengar kata-kata putranya, suasana hatinya jadi jauh lebih baik.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2