
"Bukankah kamu sudah mendapatkan banyak hadiah kemarin? Jadi aku tidak berpikir kalau hadiah dariku penting," jelas Olivia sambil mengikuti Alio. "Dan aku juga tidak mampu membelikanmu hadiah yang mahal."
"Bukankah Kementerian Luar Negeri menggajimu?" tanya Alio. "Dan siapa juga yang menyuruhmu untuk membelikan aku hadiah yang mahal?"
Mendengar itu, Olivia pun langsung menjawab. "Sebenarnya aku sudah membelikanmu hadiah ulang tahun, tapi—"
Olivia memang sengaja menjeda kalimatnya karena tak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Alio kalau hadiah itu sudah ia berikan pada Yuta.
"Tapi apa? Dimana hadiahku?" tanya Alio sambil mengamati gerak-gerik Olivia yang terlihat sangat mencurigakan.
"Aku akan membelikanmu hadiah yang lain besok, jadi—" jawab Olivia mencoba mengalihkan pembicaraan karena ia tak mau masalahnya menjadi semakin panjang.
Namun, Alio langsung memotong pembicaraan Olivia, karena ia tahu kalau Olivia mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tidak, aku hanya menginginkan yang sudah kau belikan itu!" potong Alio sembari menekankan setiap katanya dengan tatapan tajam.
"..." Olivia tak bisa berkata-kata saat itu juga.
"Mama, berikan saja hadiah itu pada Papa! Aku yakin Papa pasti akan menyukainya!" timpal Olvi dengan ekspresi polosnya.
Olvi tak tahu, kalau ucapannya barusan akan menyulitkan sang ibu.
__ADS_1
Dorongan dari sang putra malah membuat Olivia tambah pusing. Bagaimana bisa, Olivia mengatakan yang sebenarnya pada Alio? Namun, tatapan pria itu memaksa Olivia untuk mengatakan yang sebenarnya.
Olivia pikir, mungkin akan baik-baik saja, jika ia mengatakan yang sebenarnya pada Alio.
Yuta sudah menyelamatkan nyawa Olivia, ia pantas mendapatkan sesuatu yang lebih dari sekadar kemeja.
"Aku memberikannya pada Yuta," jawab Olivia jujur.
Dunia Alio berguncang saat itu juga, setelah mendengar jawaban dari Olivia.
Berbeda dengan Olvi yang gagal memahami maksud perkataan sang ibu.
"Ohh, apakah hari itu juga adalah hari ulang tahunnya Om Yuta? Lalu, bagaimana dengan hadiah Papa, Ma?" tanya Olvi polos.
Inilah alasan kenapa aku tak ingin memberitahunya, batin Olivia lalu menghela nafas panjang.
Saat mereka berjalan bersama, Alio merajuk dan ia mendiamkan Olivia yang terkadang mencoba berbicara dengannya.
Olivia menyerah membujuk Alio yang merajuk setelah beberapa kali ditolak.
Lalu, Alio pergi bersama Olvi meninggalkan Olivia dengan wajah dingin.
__ADS_1
Yang paling sulit untuk Olivia pahami adalah ... Alio yang merajuk padanya dan bosan dengan keramaian di sini. Tapi ... kenapa pria itu terus mengikutinya?
Olivia pun tiba di area kepiting karena Olvi bilang ia mau makan kepiting.
Jadi, Olivia membeli sekilo kepiting dan berencana memasaknya malam ini.
"Ini kepiting Anda, Nyonya," ucap penjual itu lalu menyerahkan sekantong plastik berisi kepiting pada Olivia.
"Terima kasih," balas Olivia ramah saat menerima kantong plastik yang diberikan padanya.
"Aw!" jerit Olivia karena jarinya tertusuk oleh cangkang kepiting yang tajam saat mencoba membenarkan kantong plastik berisi kepiting itu.
"Kenapa, Ma?" tanya Olvi langsung dengan tatapan cemas.
Lalu, Alio bergegas mendatangi Olivia sebelum wanita itu bahkan bisa menjawab pertanyaan putranya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~