Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 303


__ADS_3

Rena memandang Olivia sebentar, kemudian dengan ragu-ragu bertanya. "Apakah kamu membaca koran hari ini?"


Olivia menggelengkan kepalanya.


Rena melanjutkan. "Malam tadi ada temanku yang pergi ke acara amal, dia meneleponku dan memberitahuku tentang berita di koran yang sedang menjadi perbincangan hangat saat ini."


Saat Rena hendak mengungkapkan berita tersebut, Rena menjadi ragu dan tak nyaman pada Olivia. Melalui gerakan dan ekspresinya, sepertinya Olivia mengetahui apa yang sedang dipikirkan Rena. Olivia lalu berdiri tegak dan tersenyum. "Jangan khawatirkan aku! Aku baik-baik."


"Koran hari ini memberitakan tentang pertunangan Alio dan Angela yang akan segera dilangsungkan," ungkap Rena dengan rasa khawatir yang masih terasa.


"Oh begitu? Baguslah kalau begitu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk hubungan mereka," ucap Olivia dengan santai sambil tersenyum hangat.


Setelah tanggal pertunangan ditetapkan, Olivia merasa semuanya akan berakhir. Hubungannya dengan Alio akan berakhir seperti seharusnya. Benar kata Lucas, jangan terlalu dalam mencintai dan terlalu sakit saat tersakiti.


Ketika handphone Olivia berdering, Rena bertanya dengan penasaran. "Siapa?"


"Julia," jawab Olivia singkat.


"Abaikan saja!" ucap Rena.

__ADS_1


Handphone Olivia berdering lagi untuk kedua kalinya, Rena yang merasa kesal segera merebutnya dari tangan Olivia. "Berikan padaku! Nenek lampir itu harus kuberi pelajaran karena mengganggu waktu makan."


Julia menelpon Olivia pada saat ini, hanya untuk mengejeknya dan untunglah ada Rena di sini untuk memarahi wanita itu.


Kemampuan Rena untuk memarahi tak bisa dianggap remeh.


Olivia menyerahkan handphonenya dan meletakkannya di atas meja makan, sehingga Rena dapat sarapan sambil mendengarkan percakapan tersebut.


"Olivia, apakah kamu membaca koran hari ini?" tanya Julia dengan nada sombong.


"Tidak, aku sibuk dengan pekerjaanku," jawab Olivia singkat.


"Well, kamu harus tahu bahwa Presiden akan bertunangan dan menikah dengan Angela Scarlett. Dan kamu? Jangan berharap bisa mendapatkan Pak Presiden! Kamu tidak selevel dengannya karena memiliki anak!" sambung Julia dengan nada merendahkan.


"Ingatlah wahai nenek lampir, UPS, bukan nenek lampir lagi... Tapi wanita titisan neraka!" lanjut Rena menyindir Julia dan berteriak emosi tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.


"Julia, apa kau tidak sadar bahwa dirimu lah yang lebih memalukan?!  Di rumahmu banyak cermin, kan? Jadi, tolong berkaca dulu siapa yang sudah merebut milik siapa! Bahkan, biarpun Olivia sudah memiliki anak, dia adalah wanita terhebat yang pernah ada! Dia mampu membesarkan anaknya seorang diri walaupun dia telah kehilangan segalanya dan kau? Perjuangan dan pengorbanan apa yang telah kau lakukan, sampai kau merendahkan dia hah?!"


Julia sangat marah sehingga napasnya terengah-engah di telepon, ia kehabisan kata-kata setelah diskakamat oleh Rena.

__ADS_1


Rena mendengus. "Julia, satu lagi. Ingatlah untuk selalu menjaga Yuta dalam genggamanmu! Kamu harus lebih memikirkan dirimu sendiri daripada orang lain, bukan begitu? Nona titisan neraka?"


Tanpa menunggu Julia berkomentar, Rena langsung menutup teleponnya.


Olivia hanya terdiam kaku, tak tahu harus berkata apa.


Rena menghela nafas dan merasa sedikit gugup. "Aku tadi ... terlalu kasar, ya?" tanyanya pada Olivia.


Olivia tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak, Rena. Kamu melakukannya dengan sangat baik. Aku benar-benar terharu," kata Olivia dengan tulus.


Rena tersenyum lega. "Oh, baguslah kalau begitu. Aku hanya khawatir kalau aku terlalu agresif."


"Tidak, tidak, jangan khawatir. Kamu sangat keren dan berani, Rena. Aku bangga padamu," ucap Olivia sambil memeluk Rena erat.


Rena tersenyum dan membalas pelukan tersebut.


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2