
"Tidak," jawab Alio menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Pria itu langsung mengalihkan pandangannya dari tubuh Olivia.
Seperti biasa, Alio tak menunjukkan ekspresi selain wajahnya yang dingin.
"Bagaimana dengan tanganmu?" tanya Alio tanpa pikir panjang saat menatap jemari Olivia.
"Sudah tidak sakit lagi karena Dr. Lay sudah mengobatinya," jawab Olivia dengan canggung.
"Hm." Alio mengangguk mengerti dan segera beranjak meninggalkan Olivia.
Olivia langsung mengikuti Alio dan berjalan di sisi kanannya. Tinggi pria itu 188 cm membuat Olivia agak terlihat, yah ... pendek.
Ketika mereka berjalan berdampingan, Alio bisa mencium aroma harum yang khas milik Olivia dan bau ini sama persis dengan yang ia cium lima tahun lalu saat mereka bersama.
Olivia merasa ada yang aneh dengan dirinya, dulu ia sangat membenci pria ini karena telah membuatnya hamil. Dia juga sudah memikirkan banyak cara untuk membalaskan dendamnya pada Alio.
Tapi sekarang … perlahan-lahan Olivia merasa bahwa pria ini tak seburuk yang ia kira.
Sepanjang jalan, keduanya tak mengatakan sepatah kata pun dan berbicara satu sama lain hingga mereka tiba di kamar putra mereka.
Setelah memasuki ruangan, mereka mendapati Olvi duduk bersila di atas lantai sembari mengutak-atik pesawat model terbaru yang limited edition dan hanya ada 3 di negara ini.
__ADS_1
Pesawat itu adalah hadiah dari Arnold dan sekarang dibongkar oleh bocah kecil itu.
Ketika Alio dan Olivia masuk, Olvi tak menyadari kedatangan mereka dan terus melanjutkan aktivitasnya merakit pesawat.
Alio diam-diam duduk di samping putranya, ia juga ikut membantu saat Olvi mengalami kesulitan dalam merakit pesawat model ini.
Kemudian dengan mudahnya, anak itu langsung mengetahui langkah berikutnya.
Olvi menoleh dan bertanya. "Papa tahu cara merakit ini?"
"Sedikit," jawab Alio singkat.
Sebenarnya, Alio telah dilatih di berbagai macam bidang sejak ia masih kecil.
Senjata api dan senjata lainnya?
"Tidak, tidak boleh ... itu terlalu berbahaya!" sela Olivia tak setuju.
"Aku menyukainya! Papa, kapan Papa akan mengajariku?" tanya Olvi sangat bersemangat dan matanya langsung berbinar.
Tadinya, Olvi merajuk tapi sekarang suasana suasana hatinya yang buruk langsung menghilang seketika.
"Kapan saja setelah kamu selesai merakit pesawat mainan ini," jawab Alio lalu mendudukkan Olvi di pangkuannya.
__ADS_1
"Ah, pesawat mainan ini sangat mudah dan aku bisa menyelesaikannya kapan saja. Bagaimana, kalau mulai besok Papa mengajariku!?"
Olvi sudah sangat ingin mencobanya.
"Tidak boleh! Mama tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk mempelajari itu, tidak peduli kapanpun itu!"
Olivia menyela percakapan ayah dan anak itu dengan wajah khawatir.
"Oke, mari kita mulai besok." Alio setuju, kemudian mengelus kepala mungil putranya.
"Papa memang yang terbaik!" seru Olvi lalu mencium pipi Alio karena sangat senang dan senyum tipis muncul di wajah Alio yang selalu dingin.
Di sisi lain, Olivia menatap kesal Alio dan putranya.
Sekarang, ia benar-benar diabaikan oleh mereka berdua!
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~