
Alio masih marah, jadi kali ini pria itu meninggalkan Olivia berjalan perlahan di mansion dan tak membantu wanita itu sama sekali.
Olvi yang mengenakan sandal dan piyama, berlari turun sambil memanggil Olivia dengan penuh semangat. "Mama!"
Anak itu seperti malaikat kecil yang berusaha memegang Mamanya, Olivia memang ingin menggendong putranya, tapi ia tak bisa.
"Olvi, jangan mendekati Mama!" larang Olivia sambil mengernyitkan alis dan melangkah mundur seolah dihadapkan dengan musuh yang berat.
"Bawa tuan muda ke kamarnya! Dia tidak diizinkan masuk ke kamar tamu selama dua hari ini!" perintah Alio kepada Sebas.
"Baik," balas Sebas dengan cepat langsung menggendong anak itu.
Olvi melihat Papa dan mamanya masuk ke kamar tamu bersama, tapi anak itu tak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sambil bersandar di pelukan Sebas, Olvi terkikik dan bertanya. "Om Sebas, apakah Papa berkencan dengan Mama, jadi aku tidak boleh mengganggu mereka?"
"Mungkin?" jawab Sebas.
"Mereka pasti membuat bayi!" sambung Olvi tertawa bahagia.
"..." Sudut bibir Sebas berkedut. Anak ini! batinnya tak bisa berkata-kata.
"Papa bilang kalau dua orang tidur bersama bisa membuat bayi, jadi aku akan meninggalkan mereka sendirian, Om Sebas, Anda juga harus meminta yang lain untuk tidak mengganggu mereka!"
__ADS_1
"..."
"Aku ingin adik perempuan, Om Sebas, apakah mereka bisa membuat adik perempuan untukku? Tapi bagaimana jika mereka membuat adik laki-laki? Aku tidak suka anak laki-laki."
Sebas benar-benar ingin memberitahu anak itu bahwa Olvi berpikir terlalu jauh dan berlebihan, tapi saat ia melihat wajah anak kecil yang penuh harapan itu Sebas hanya bisa terdiam.
...—oOo—...
Apartemen Yuta Shiro.
Ruangan itu sangat gelap karena tak ada cahaya sama sekali, Yuta berbaring di tempat tidurnya dengan mata terpejam.
Bahkan setelah sekian lama, pria itu masih bisa mencium aroma Olivia.
Yuta menghela nafas berat, berusaha mencari penghiburan untuk mengisi hatinya yang kosong dan menyakitkan.
Semakin pria itu melakukannya, semakin sakit hatinya.
Olivia dibawa pergi oleh Pak Presiden dalam pelukannya, Yuta ada di sana, tapi ia tak bisa melakukan apa-apa.
Kemudian, Yuta menjadi semakin jauh dari Olivia…
Setelah berbaring lama, Yuta mencari-cari handphonenya di atas nakas samping tempat tidur dan menelepon seseorang.
__ADS_1
"Kak Yuta, aku tidak mau putus denganmu."
Begitu Julia menjawab telepon, wanita itu langsung memohon padanya sambil menangis.
"Aku tidak akan membatalkan pertunangan kita ... aku tidak mau!"
"Julia, aku sudah memutuskan, aku minta maaf."
Kata-kata Yuta terdengar begitu kejam sehingga tak ada kesempatan untuk Julia mengembalikan keadaan.
Setelah jeda, pria itu melanjutkan. "Besok, tolong minta maaf kepada Olivia."
"Minta maaf pada Olivia?!" sahut Julia gemetar karena perkataan terakhir Yuta, bahkan suaranya juga bergetar. "Kak Yuta, kamu sudah keterlaluan! Dia sudah mengambilmu dariku dan dia yang harus meminta maaf kepadaku meskipun aku tidak akan pernah memaafkannya! Kenapa aku harus minta maaf padanya? Aku lebih baik mati!"
Pada akhirnya, suara Julia menjadi lebih melengking dan wanita itu lebih histeris.
Yuta belum pernah melihat Julia bersikap seperti ini, ia memijat antara kedua alisnya. "Ini semua salahku Julia, jadi jangan menyalakan Olivia!"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~