
Adegan itu berganti lagi, Alio berjalan sambil bergandengan tangan dengan Angela Scarlett menuju pelaminan pernikahan. Orang-orang bersorak, rakyat mencintai mereka dan negara ini merayakan dengan penuh kegembiraan.
Olivia menyaksikan Alio yang semakin menjauh darinya hingga sulit untuk digapai.
"Olivia, bangun!"
Suara Rena tiba-tiba masuk ke dalam mimpinya, tubuhnya ditepuk ringan. Lalu, Olivia membuka matanya, merasakan sakit tak terduga di dadanya.
Rasanya, seperti ... hatinya dihancurkan dengan keras, menyebabkan nyeri yang menusuk.
Olivia menatap langit-langit dengan wajah pucat, selama beberapa saat, adegan Alio berjalan di altar bersama Angela masih terus berputar di pikirannya.
Meskipun itu hanya mimpi, rasanya sangat menyakitkan.
Karena ... mimpi itu terasa sangat nyata.
"Kamu mimpi buruk, ya?" tanya Rena menatap Olivia dengan khawatir. "Sudah merasa lebih baik?"
"Yah, aku tidak apa-apa," jawab Olivia bangkit dari tempat tidur. Tapi putranya sudah tak ada disisinya. "Dimana Olvi?"
"Setelah sarapan, sopirnya datang dan mengantarnya ke sekolah," jawab Rena.
__ADS_1
Olivia mengangguk ringan, mengambil handphonenya dan melihat jam. Sudah pukul delapan, Olivia tidur terlalu larut malam, jadi pagi ini ia tak bisa bangun lebih awal.
"Buruan siap-siap dan sarapan setelah itu, kalau tidak ... Kamu akan terlambat!" ujar Rena sambil melangkah keluar dari kamar tidur.
Olivia mengambil handphone dan pergi ke kamar mandi, sejak kemarin pagi sampai sekarang, ia hampir tak pernah melepaskan handphonenya.
Yuta mengirim pesan, isinya penuh perhatian, Olivia hanya membacanya dan bahkan lupa isinya.
Yang Olivia pedulikan sekarang, telepon yang ia tunggu-tunggu belum juga muncul.
Sambil gosok gigi dan mencuci muka, jari Olivia terus merefresh berita di internet.
Olivia berdoa semoga badai ini cepat berlalu, tapi jelas tak mungkin. Di media manapun berita itu masih sangat ramai di perbincangkan, sepertinya netizen tak punya topik baru selain berita ini yang menarik perhatian mereka.
Olivia melewati hari itu dengan kebingungan. Malamnya, saat Olivia baru saja selesai membersihkan dapur bersama Rena, ia menemani Olvi mengerjakan PR dan handphone yang di letakan di sampingnya tiba-tiba berbunyi.
Olivia melirik ke sumber suara, nomor yang tak dikenal berkedip-kedip di layarnya.
Sebenarnya, Olivia sudah tak berharap lagi Alio akan menelponnya. Tapi, saat melihat nomor yang tak dikenal itu, hatinya entah kenapa berdegup dengan kencang.
Sampai akhirnya, Olivia mengangkat telepon dan langsung mendengar suara Arnold dari seberang sana.
__ADS_1
"Kak Olivia."
Tiba-tiba mata Olivia tak terkendali dan berkaca-kaca.
Hatinya sulit tenang untuk waktu yang lama, Olivia menutupi handphone dengan tangan, menarik napas dalam-dalam dan berusaha membuat dirinya terlihat tenang, lalu meletakkan kembali handphone itu di telinganya.
"Kak Olivia?" Arnold tak mendengar respon dan memanggil lagi.
"Ya, Arnold?" Olivia buru-buru menjawab.
Olivia berdiri dan berjalan ke sudut ruangan, tak ingin putranya melihat keadaannya yang rapuh seperti ini.
"Apakah kamu ada waktu sekarang?"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thank you so much and see you next chapter~