
Mendengar itu, Rena sangat terkejut hingga wajahnya yang cantik memucat dan tanpa sadar Rena mengepalkan kedua tangannya saat mendengar kata 'Istri'.
Dokter Lay sengaja tak menjawab pertanyaan Pak Presiden dan matanya melirik ke arah Rena yang saat ini terdiam dengan perasaan rumit.
Sedangkan Rena tenggelam dalam pikirannya selama beberapa saat sehingga tak menyadari tatapan Dokter Lay.
Setelah Alio dan orang-orangnya menjauh pergi Olivia melambaikan tangannya di depan wajah Rena. "Ren, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.
Lalu, Rena tersadar dari lamunannya. "O-Oh, aku sedang memikirkanmu dan juga Pak Presiden," jawabnya lalu menoleh ke arah Olivia sambil tersenyum dan menghela nafas. "Aku sangat iri padamu…," lanjutnya.
"Iri padaku?" tanya Olivia bingung. "Kenapa?"
Rena pun mengambil selimut Olivia yang terjatuh ke tanah, lalu ia bersihkan dengan cara menepuk-nepuk selimut itu sambil berjalan masuk ke dalam kediaman Presiden berdampingan dengan Olivia.
__ADS_1
"Karena, Pak Presiden menyukaimu, aku bisa mengetahuinya dari cara dia memperlakukanmu, " jawab Rena sambil tersenyum hangat. "Olivia, lupakanlah Yuta. Sekarang, kamu harus membuka hatimu untuk Pak Presiden karena pria itu sudah berada di depan matamu! Yuta adalah masa lalumu, tapi Pak Presiden adalah masa depanmu! Pak Presiden sangat baik padamu dan dia menolongmu saat Julia mengganggumu, wanita ular itu pasti tak berani mengganggumu lagi!" lanjutnya.
"Membuka hatiku untuk Pak Presiden?" Olivia tetap diam selama beberapa saat lalu menatap Rena dengan getir. "Apa kamu pikir … Pak Presiden bisa mencintaiku seperti itu?"
"Kenapa tidak bisa? Meskipun aku tidak yakin Pak Presiden mencintaimu atau tidak, tapi aku yakin dia menyukaimu karena dia sangat peduli padamu."
"Olivia, jika aku itu kamu, saat aku tahu dia menyukaiku sampai seperti itu, aku akan langsung datang dengan senang hati! Pak Presiden berbeda dengan Yuta yang sudah menyakiti kamu, aku jamin kalau kamu akan bahagia bersama Pak Presiden!"
"Rena, itu tidak mungkin terjadi! Aku dan dia … tidak mungkin bersama, mengingat Alio bagaikan bintang di langit dan aku adalah debu di tanah," ucap Olivia terlihat sedih.
Atau kesenjangan status antara dia dan Alio, Olivia sudah berusaha bersikap sebaik mungkin.
Mendengar pernyataan itu, Rena tampak tersengat oleh sesuatu dan wajahnya menjadi cemberut dalam sekejap. "Ya, kamu benar, Olivia. Andai saja kita ditakdirkan untuk tidak bersama pada awalnya, aku tidak akan pernah membiarkan diriku mencintainya."
__ADS_1
Ya, perasaan bahwa kita tak bisa menjadi tua bersama terlalu menyakitkan dan rasa sakit itu lah yang mengajarkan untuk tak mudah jatuh cinta.
Setelah terdiam beberapa saat, mata Rena mulai berkaca-kaca, lalu dengan sekuat tenaga Rena menahan air matanya agar tidak jatuh. "Karena itulah, aku lebih suka menyakiti diriku sendiri untuk melupakannya."
Setiap kata Rena terdengar sangat sedih tapi juga tegas, Olivia mengamati Rena dengan cermat saat ia merasa tingkah sahabatnya tampak sangat aneh hari ini.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~