
Olivia tak bisa bergerak karena seorang anak memeluknya dengan erat.
Ketika Olivia menyadari bahwa ia bahkan tak tahu kapan ia dibawa ke kamar, ia segera melihat sekelilingnya.
Orang yang membuat Olivia merasa panas adalah seorang pria dengan tubuh yang menarik.
Setelah dipikir-pikir, Olivia benar-benar tak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini, Alio tak menggodanya.
Akhirnya, Olivia berguling dan memeluk Olvi, ia merasa sangat gugup karena jarak antara ia dan Alio terasa sangat intim.
Namun, panas yang ada di antara Olivia dan Alio tiba-tiba mereda.
Tak lama kemudian, Olivia tertidur lagi.
Alio terbangun dan merasa khawatir saat melihat ekspresi gelisah di wajah Olivia, sehingga dia dengan cepat mundur.
Alio menyadari bahwa Olivia yang tertidur merasa sesak, jadi ia memindahkan Olvi sedikit.
Kemudian, ekspresi Olivia mulai berubah menjadi lebih nyaman.
...—oOo—...
Setelah mengoleskan selai ke roti dan memasak bubur, Olivia keluar dari dapur menuju ruang makan.
__ADS_1
Olivia melihat bahwa Alio dalam keadaan sehat, pria itu tak masuk angin seperti saat terakhir kali mandi di hari yang dingin.
Di ruang makan kecil yang terhubung ke ruang tamu, Alio duduk bersama Olivia dan Olvi. Saat itu, ia berpakaian rapi karena Arnold telah membawa pakaian Alio pagi-pagi sekali.
Olivia meletakkan sarapan di depan Alio dan Olvi. Setelah itu, Olivia mendongak dan memanggil Arnold yang berada di ruang tamu. "Arnold, ayo sarapan bersama-sama."
"Terima kasih, Kak Olivia. Aku sudah makan," tolak Arnold dengan sedikit rasa takut dan canggung, karena Alio melotot melarangnya untuk bergabung.
Olivia berhenti mengatakan apa pun dan tak berani melirik pria di sebelahnya karena merasakan tatapan tajam dan berbahaya darinya.
Sebagai gantinya, Olivia hanya tersenyum canggung.
"Mama, Papa... ada yang aneh dengan kalian!" ucap Olvi tiba-tiba.
Tadi malam, Olvi tidak mungkin tahu, kan?
Alio melirik ekspresi gugup Olivia dan tersenyum.
Setelah beberapa saat keheningan, anak itu menambahkan. "Tidak mau bilang apa-apa? Tapi ketika aku tidur tadi malam, Mama terus bergumam," Olvi berteriak dengan wajah imut sambil memutar kepalanya ke sana-sini, melihat bergantian ke arah Alio dan Olivia.
Akhirnya, Olvi merasa puas dengan pertanyaannya. "Mama, apakah Papa memarahi Mama lagi tadi malam? Sepertinya aku telah mendengar ketika Mama mengatakan 'Jangan lakukan ini.'"
Mendengar pertanyaan Olvi, tubuh Olivia menjadi mati rasa dan wajahnya langsung memerah.
__ADS_1
Meski bibirnya bergerak, ia tak bisa mengatakan sepatah kata pun saat menatap mata polos sang anak.
Olivia hampir tak memiliki kesempatan untuk berbicara.
Darimana Olvi mengarang cerita ambigu seperti itu?! Aku tidak berkata seperti itu! Apa jangan-jangan... Aku bergumam?! Aaaaaaa malu sekali! batin Olivia dalam hati.
Akibatnya, Olvi tak merasa bahwa ia mengatakan sesuatu yang salah. Ketika ia melihat ekspresi Olivia, Olvi berpikir bahwa Mama benar-benar dimarahi.
Dua alis tampan Olvi berkerut, lalu memprotes Alio dengan kesal, "Papa, bagaimana bisa Papa memarahi Mamaku tadi malam?"
"Bukankah kamu seharusnya bertanya pada Mamamu, apakah aku melakukan sesuatu yang salah tadi malam?" tanya Alio.
Olivia merasa ingin bersembunyi sekarang.
Alio telah melemparkan semua masalah kepadanya!
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~
__ADS_1