
Detak jantung Olivia kacau selama beberapa saat, ia menepuk wajahnya lalu membersihkan dirinya dan mengusir Alio dari pikirannya.
Olivia memegangi dadanya untuk waktu yang lama dan akhirnya hatinya bisa jadi tenang.
...-oOo-...
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali, Olivia dan Olvi berpakaian rapi.
Olvi berpakaian seperti tuan muda dan Olivia mengenakan gaun sederhana ditambah perhiasan emas yang mempesona di beberapa bagian tubuhnya yang membuatnya terlihat sangat cantik.
Presiden sudah duduk di ruang makan bersama butler yang melayaninya.
Cahaya pagi bersinar melalui jendela mansion kediaman Presiden, Olivia dan Olvi berjalan masuk dengan langkah yang anggun dan tenang.
Alio hanya mengangkat sedikit kelopak matanya dan menatap putranya sekilas.
Olivia merasa, walaupun ia dan Alio sangat dekat namun ada begitu besar jarak di antara mereka.
Apakah karena mereka berasal dari dunia yang berbeda?
"Tuan muda, Nyonya Olivia, selamat pagi."
__ADS_1
Maid dan butler menarik kursi untuk mereka duduk dan dengan hormat menyambut mereka berdua.
"Selamat pagi, Papa." Olvi menyapa Alio dengan sopan lalu duduk di kursi.
"Hmm," jawab pria itu singkat.
Olivia tak mengatakan apa-apa selain makan dalam diam, ia agak malu bertemu Alio karena kejadian tadi malam dan ia juga tak mempunyai keberanian untuk menghadapi pria itu seperti sekarang.
Namun, sepertinya perasaan malu ini hanya perasaan Olivia saja.
Buktinya, Alio selalu acuh tak acuh padanya.
"Papa, apa itu?" tanya Olvi penasaran dengan mata yang membulat saat menatap leher Alio.
Olivia kembali teringat dengan kejadian semalam, itu adalah tempat yang digigitnya saat ia menggila.
Hingga sampai saat ini, luka pria itu masih terlihat agak mengejutkan.
"Oh, ini di gigit kucing yang sangat nakal."
Saat Alio menyelesaikan perkataannya, ia hanya melirik Olivia sekilas.
Olivia sangat malu saat pria itu mengatakannya dengan ambigu, ia hanya bisa menundukkan kepala dengan pipi yang merah sambil berpikir ingin menghilang saja.
__ADS_1
"Aku tahu, kucing itu pasti sangat cantik," kata Olvi sambil menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Bagaimana kau bisa mengatakan itu?" tanya Alio mengangkat alisnya.
"Kalau tidak, bagaimana papa bisa digigit? Dan juga digigit di tempat yang seperti itu. Aku juga menyukai kucing tapi jika dia tidak cantik, aku tidak akan membiarkannya menggigitku! Apa Mama yang menggigit Papa?" jawab Olvi balik bertanya dengan wajah polos tanpa dosa.
Begitu kata-kata anak itu selesai, para maid dan butler yang mendengar itu hampir saja tertawa, tapi mereka semua menahannya karena saat ini berada di depan Presiden.
Olivia ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalam sana saja!
Olvi ini benar-benar, ya! batin Olivia kesal setengah mati.
Wajah Alio tampak sangat terkejut, siapa yang memberi tahu putranya ini bahwa Olivia lah yang menggigitnya?
"Olvi sayang, sarapan dengan benar dan jangan berbicara lagi!" Olivia mengambil buah dan dengan cepat memasukkannya ke dalam mulut Olvi guna membungkam mulut putranya itu.
"Kenapa wajah Mama merah?" Olvi menatap ibunya dengan mata besarnya yang ingin tahu sambil mengunyah buah yang diberikan Olivia tadi.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~