Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 131


__ADS_3

Sambil memegang handphone, Olivia berdiri di balkon dan angin dingin menerpanya, ia berpikir kalau kehidupan atau kematian ayahnya belum diketahui, lebih tepatnya ... tak secara akurat, ayahnya sudah berdiri di gerbang kematian.


Olivia cemas dan dadanya sakit karena terganjal oleh sesuatu.


Jika Yuta tak bisa membantu, orang yang bisa dimintai tolong adalah Lucas, dan...


Alio.


Namun, Olivia tak bisa membuat permintaan seperti itu kepada Alio!


Pria itu sibuk menghadiri berbagai urusan negara dalam beberapa hari ini.


Olivia membuka password handphonenya, lalu membuka kontak dan menggeser layar ke bawah mencari nama 'Lucas'.


Namun, sebelum Olivia keluar, sebuah telepon masuk.


Wanita itu terkejut.


Melihat 'Suami Masa Depan' yang berkedip-kedip di layarnya, ia tercengang untuk waktu yang lama.


Saat Olivia mengangkat telepon itu, Alio sudah menelponnya empat atau lima kali.


"Halo, ini siapa?" suara bernada rendah dan menenangkan Alio datang dari telepon.


Olivia entah bagaimana merasakan hatinya bergetar, suara Alio sepertinya menghantam tempat paling sensitif di hatinya.


Ketegangan wanita itu runtuh dalam sekejap saat mendengar suara Alio.

__ADS_1


Olivia terisak-isak dan ingin mengatakan sesuatu, tapi tenggorokannya seperti tersumbat oleh sesuatu, jadi ia tak bisa bicara.


"Olivia?" Alio memanggil namanya dengan akurat.


Bahkan jika Olivia tak berbicara, pria itu bisa mengenalinya dengan napasnya yang berat.


"Iya ini aku…," sahut Olivia membenarkan


"Kau menangis?" tanya Alio dengan suara semakin rendah. "Apa yang terjadi?"


"T-tidak…" Olivia menggelengkan kepalanya dan mengendus-endus, lalu ia mendongak dan menatap ke depan, mencoba menahan air matanya.


"Katakan padaku!" tuntut Alio tak terbantahkan.


Setelah jeda beberapa saat, pria itu terus bertanya. "Apakah ada seseorang yang mengganggumu di tempat kerja?"


"Lalu kenapa?"


"Ini tentang keluargaku."


"Ya, katakan…"


Olivia bergumam pada dirinya sendiri sejenak, lalu bercerita. "Baru saja ibu tiriku menelponku … dia bilang kalau ayahku dipastikan tertular virus epidemi, aku ingin pergi ke rumah sakit untuk menemuinya, tapi ... sekarang ayahku sedang di karantina dan kami tidak tahu apa-apa tentang kondisinya."


Saat Olivia menjelaskan, ia semakin sedih, suaranya bercampur isak hingga terdengar lebih rapuh dan menyedihkan.


Alio bertanya. "Apakah kau ingin melihatnya?"

__ADS_1


"Iya, tapi … aku tahu ini sangat sulit. Bahkan, Yuta tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Olivia cepat.


Wajahnya Alio berubah dingin. "Kau menelponku dua kali hanya untuk ini?"


"Tidak ... aku hanya tidak ingin merepotkanmu dan membuatmu tidak nyaman dengan hal-hal seperti itu," balas Olivia takut akan merepotkan pria itu.


"Jadi, kau lebih suka merepotkan mantan pacarmu?!" bentak Alio, pria itu terdengar agak tak ramah.


Olivia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak meminta bantuan Yuta, jadi... "


Olivia berhenti sejenak dan melanjutkan. "Aku ... akan bertanya pada Lucas. Apakah dia punya cara."


Alio mengerutkan keningnya. "Sepertinya kau sudah memutuskan untuk mengabaikan kata-kataku!" balas Alio dan nada suara pria itu seperti dilapisi dengan es.


Sial!


Apakah Olivia sengaja memprovokasi Alio?


Wanita itu sebenarnya tak meminta Alio untuk membantunya, tapi malah pergi mencari Lucas untuk meminta bantuan?!


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2