Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 302


__ADS_3

Digo tak mengatakan apa-apa dan bahkan tak menatap wanita itu lagi, lalu perlahan menutup jendela mobilnya.


Tim Jaguar mendekati Alea dengan luka-luka ringan, namun Digo menghilang begitu saja di malam yang gelap.


Alea memandang ke arah jalan yang gelap dan merasa seolah-olah semua yang terjadi baru saja sebuah ilusi. Namun, rasa sakit di antara kedua kakinya begitu jelas terasa sehingga tak bisa diabaikan.


Dicky mengemudikan mobil sementara Alea duduk di belakang. Meskipun niatnya adalah untuk mengakhiri hubungan di antara mereka, Alea masih merasa sedikit malu.


Alea tak membenci Digo atau lebih tepatnya, ia tak bisa membenci pria itu.


Meskipun Digo pernah menyakitinya sebelumnya, Alea tetap tak bisa merasa benci terhadapnya. Setelah bertemu kembali dengan Digo, ada banyak hal yang membuat Alea merasa takut.


Alea takut akan luluh pada pria itu lagi, takut jatuh cinta pada Digo lebih dalam lag dan kemudian di tinggalkan seperti sebelumnya, ia takut walaupun mereka saling mencintai, takdir tak mengizinkan mereka bersama.


"Dicky," panggil Alea dengan suara tenang, menarik perhatian pria tersebut. "Hari ini, jangan sampaikan apa pun pada siapa pun. Anggap saja ini tak pernah terjadi."


Dicky tampak marah dan bingung. "Apa? Bagaimana bisa begitu?"


"Ini tidak ada hubungannya dengan departemen keamanan. Pria itu datang mencariku." Alea sudah memulihkan ketenangan dan bersikap seperti biasa.


Apa yang Digo lakukan pada Alea tadi, membuat Dicky tak tenang melihatnya.

__ADS_1


Pasti ada yang terjadi di dalam mobil tadi, apakah mereka bernegosiasi atau tidak? Itu tidak akan merubah apapun!


"Tapi kamu adalah ketua kami!" ucap Dicky dengan suara keras.


Alea segera menyela amarah pria itu. "Cukup sampai di sini saja. Tolong jangan bertindak gegabah! Aku minta kalian kembali dan merawat luka-luka kalian. Aku akan menyelesaikan masalah ini sendiri."


Meskipun ada yang ingin Dicky katakan, ia tak berani membantah kata-kata Alea. Dicky hanya menganggukkan kepalanya, merasa frustrasi, dan akhirnya membanting pukulannya di setir.


...—oOo—...


Keesokan harinya adalah Minggu.


Malam sebelumnya, Olivia sulit tidur karena hari itu merupakan hari libur kerja. Namun, ia tak bisa terus berbaring di tempat tidur.


Tak lama kemudian, Rena datang mengunjunginya.


Olivia menunjuk ke bubur yang tak tersentuh di atas meja makan. "Kamu belum makan, kan? Aku baru saja memasaknya."


Rena menatap Olivia dan makanan itu beberapa kali, lalu berjalan diam-diam ke meja untuk sarapan. 


Olivia datang dengan pel. "Angkat kakimu!"

__ADS_1


"Disini bersih sekali, kamu tadi sudah mengepel bagian sini." Rena memandang Olivia dengan keheranan.


"Benarkah?"


Rena mengangguk. "Ya."


Olivia berbalik ke sisi lain dan melanjutkan membersihkan ruangan lain dengan pel.


"Kamu tidak bisa tidur semalaman, bukan? Matamu bengkak," ucap Rena memperhatikan wajah Olivia.


"A-aku tidur, bagaimana mungkin aku tidak tidur?" Olivia berbohong sambil tersenyum.


"Kamu berbohong lagi."


"Aku tidak bisa tidur karena khawatir pada Olvi."


Pikiran Olivia di penuhi, bagaimana cara membawa Olvi ke sisinya kembali?


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2