
Olivia berbalik dan terkejut saat melihat Alio berdiri di hadapannya dengan beberapa barang.
"Kenapa membawa handuk dan sikat gigi?" tanya Olivia bingung.
"Ah." Alio melirik sebentar."Ini adalah perlengkapan mandi."
"Tapi...kamu tidak berencana untuk tidur di sini, kan?" tanya Olivia khawatir.
"Aku pikir apa yang kau katakan cukup masuk akal, jadi aku akan mengikuti maksudnya. Artinya, aku akan menginap di sini malam ini." Alio menjelaskan, membuat Olivia terdiam sejenak.
Olivia merasa Alio tak mengerti apa yang ia maksud. Tunggu! Kapan Olivia pernah menyuruh Alio untuk menginap? Sepertinya Alio tahu apa yang ada di pikiran Olivia, ia membungkuk dan mendekatkan dirinya sedikit ke Olivia dan wajah wanita itu langsung memerah. "Kau sudah mengingatkanku berkali-kali bahwa sudah terlalu larut malam. Tidak bisakah aku menginap? Itu maksudmu, kan?"
Pendekatan tiba-tiba dari Alio membuat Olivia refleks mundur. Namun, ketika Olivia mengerti apa yang dimaksud Alio dan ingin memberikan penjelasan, ia menyadari bahwa Alio sudah cukup jelas menyatakan niatnya.
"Aku telah memutuskan untuk menginap di sini."
Sikap Alio terlalu tegas untuk ditolak, seperti biasa ia mendominasi.
__ADS_1
Olivia melihat Alio menuju kamar mandi dan segera menyusul. "Kau tahu kan, sofa di apartemen ini tidak terlalu besar, mungkin kurang nyaman untuk tubuhmu yang panjang."
"Siapa bilang aku ingin tidur di sofa?" Alio menatap Olivia dengan tajam.
"Hanya ada satu tempat tidur, dan tempat tidurnya tidak terlalu besar," jawab Olivia agak frustasi.
"Tubuhku terlalu berharga untuk tidur disofa, bukankah kau agak keterlaluan membiarkan tamu terhormat seperti ku untuk tidur disofa, kau adalah tuan rumah terburuk yang pernah kutemui."
Olivia tak bisa berkata apa-apa.
Tampaknya Alio telah memutuskan untuk menginap malam ini. Alio adalah orang penting, ia tak bisa menyeretnya keluar.
Alio menatap Olivia dengan senyum tipis. "Jika kau masih mengikuti aku, kau akan ku mangsa."
Olivia terdiam lagi. Pria ini benar-benar seenaknya!
"Tidak pergi? Apakah kau ingin melihatku mandi, atau kau ingin mandi bersama?" Alio menggerakkan jarinya untuk membuka empat kancing bajunya dengan anggun.
__ADS_1
Olivia tiba-tiba mendongak dan tanpa sadar melihat otot-otot dada Alio yang seksi. Wajahnya memerah, dan ia mundur dengan cepat setelah menyadarinya.
Ketika Olivia sampai di kamar, wajahnya masih memerah dan jantungnya berdebar-debar.
Akhirnya, Olivia pasrah dan menyalakan lampu kecil di samping tempat tidur.
Melihat Olvi yang tidur pulas, tubuhnya yang kecil dan lembut sudah memenuhi sebagian besar tempat tidur, Olivia merasa tersentuh. Pipi putih yang lembut itu terlihat menggemaskan, dan Olivia melihat selimutnya sudah terjatuh ke lantai.
Olivia tersenyum sambil mengambil selimut dan menutupi Olvi yang tidur pulas di tempat tidur. Selanjutnya, ia mengambil selimut lain dan meletakkannya di sofa.
Olivia tahu bahwa tak ada pilihan selain tidur di sofa malam ini. Bukan karena ia baik hati pada Alio, melainkan karena Alio terlalu tinggi dan sofa yang tersedia hanya sepanjang 1,5 meter. Sangat sulit untuk mengakomodasi tubuh pria setinggi 188 cm tersebut.
Memang, dengan tinggi badannya yang lebih kecil, tubuh Olivia masih bisa menyesuaikan diri dengan sofa yang sempit itu.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~