
Lalu…
Beberapa buah mobil yang berbaris rapi datang dengan perlahan-lahan.
Totalnya ada lima mobil.
Olivia pertama kali melihat Arnold, kemudian Alio turun dan dikelilingi oleh kerumunan orang.
Hari ini adalah hari yang cerah dan agak panas, Alio masih sangat menawan seperti bulan yang dikawal oleh bintang.
"Selamat sore, Pak Presiden!"
"Di dalam berbahaya, hati-hati, Pak Presiden!"
"Anda terlihat lebih kurus, tolong jaga diri Anda!"
"Apakah Anda sudah makan, Pak?"
Orang-orang yang antusias dan baik hati ini mengelilingi Alio dengan kegembiraan yang tak bisa ditahan dan diungkapkan dengan kata-kata.
Olivia didorong oleh kerumunan dan terseret arus kesana kemari, hingga di beberapa saat ia hampir jatuh.
Wanita itu menatap Alio, sebenarnya mereka sangat dekat … pria itu berjarak kurang dari sepuluh meter darinya.
__ADS_1
Tapi ... itu jarak yang tak bisa dilewati.
Di seberang lautan manusia yang luas, Alio berada di posisi tertinggi, sementara Olivia tampak semakin tak penting.
Semakin lama Olivia menatap Alio, semakin ia merasa kalau pria itu tak dapat dijangkau.
Kerumunan orang-orang terus mendorong Olivia dan ia benar-benar akan jatuh.
"Hati-hati!" ucap Yuta meletakkan tangannya di pinggang Olivia dan menatap wanita itu dengan khawatir. "Apakah kamu baik-baik saja? Pergelangan kakimu terkilir?"
Telapak tangan Yuta sangat hangat.
Dengan bantuan pria itu, Olivia nyaris tak bangkit dan saat ia mendongak lagi, ia kebetulan menatap mata prihatin Yuta dan wanita itu merasa sedikit malu.
Saat ini, Olivia merasa seseorang sedang menatap punggungnya.
Wanita itu menoleh ke belakang dan ia melihat mata Julia menatapnya dengan marah seakan-akan menusuk punggungnya.
Teringat dengan apa yang Yuta katakan padanya di lapangan golf Gomes hari itu, Olivia tanpa sadar melangkah mundur untuk menjauh dari pria itu.
"Julia, lihat! Pak Presiden sepertinya melihat kita!" Jesi berteriak kegirangan dan menarik tangan putrinya.
Semua orang melihat Pak Presiden, Olivia menatap tepat ke mata Alio—dalam dan rumit.
__ADS_1
Alio menoleh kepada Arnold untuk membisikkan beberapa patah kata, lalu mengalihkan kembali pandangannya dan berjalan maju tanpa berhenti.
Seluruh perhatian Julia tertuju pada Yuta, wanita itu pergi dan meraih lengan Yuta, lalu berbicara dengan marah. "Sekarang Pak Presiden ada disini, jangankan masuk bangsal isolasi, kita bahkan tidak bisa masuk rumah sakit! Kak Olivia, jika kau tidak bisa membantu, katakan saja dengan jujur. Jangan buang waktu kami di sini, kesehatan nenek sedang tidak baik, jika seseorang mendorongnya sampai jatuh, apakah kau bisa bertanggung jawab untuk itu?"
Jesi merasa kalau kata-kata putrinya masuk akal, jadi wanita itu menyambung. "Iya, aku sudah menaruh harapanku padamu, tapi sekarang aku terlihat bodoh. Aku seharusnya memikirkannya lebih dulu, bahkan Yuta tidak bisa membantu, bagaimana kau bisa?"
Tapi…
Saat Jesi selesai berbicara, kerumunan tiba-tiba dibelah oleh beberapa bodyguard berjas hitam.
Setelah itu, dokter Lay datang perlahan dari jalan yang terbelah dan melangkah langsung menuju Olivia.
"Nona Olivia." Dr. Lay menyapa wanita itu dengan sopan.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1