Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 143


__ADS_3

"Dengan senang hati," balas Alio tetap tenang seperti biasa.


Setelah itu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Alio berbalik hendak pergi dan pada saat yang sama, pria itu melirik Olivia.


Saat Olivia melihat tatapan Alio, emosi di hatinya bergejolak.


Olivia sangat khawatir dengan Alio sehingga ia tanpa sadar meraih dan menarik sudut jasnya saat pria itu berbalik.


Alio langsung berhenti dan menoleh pada Olivia.


Setelah itu, Alio dan Olivia saling menatap mata satu sama lain dan merasa agak ambigu.


"Ada apa?" tanya Alio dengan suara datar.


"Jika nanti Anda memiliki gejala, Anda harus segera pergi kepada Dokter Lay," jawab Olivia ragu-ragu pada awalnya dan kekhawatiran di mata wanita itu benar-benar terungkap.


Alio mengangkat alisnya. "Jadi, gejala apa yang Anda harapkan akan saya alami?"


"Tidak ada!" Olivia menggelengkan kepalanya dan mengerutkan kening. "Saya harap tidak ada hal buruk yang terjadi pada Anda!"


Setelah beberapa lama, pria itu akhirnya berbisik. "Aku mengerti."


Setelah itu, Alio tak bergerak.


Dan mata pria itu tertuju pada tangan Olivia yang masih memegang ujung jasnya. Kemudian, Olivia menyadari itu dan ia langsung melepaskannya lalu meletakkan tangannya di belakang.

__ADS_1


Yah, itu agak memalukan.


Alio menatap Olivia lagi dan melihat wajah wanita itu memerah, lalu pria itu berbalik.


Saat ini, sepertinya ada sedikit senyum di wajah Alio yang dingin, yang membuat pria itu sangat menawan.


Di sisi lain, Yuta memperhatikan mereka dengan perasaan kaget.


Dan tiga orang lainnya hanya bisa memendam pikiran mereka sendiri.


Sebelumnya, mereka hanya mencurigai hubungan Olivia dengan Presiden, tapi sekarang … interaksi mereka berdua telah membuktikan hal itu!


...—oOo—...


Olivia kembali ke Kementerian Luar Negeri dan Yuta mengantar tiga orang lainnya pulang ke kediaman keluarga Stein.


Seharusnya mereka bahagia setelah mengetahui kondisi Oliver Stein, lalu bertemu dan berbicara dengan Pak Presiden hari ini.


Namun, mereka bertiga sangat kesal saat ini.


Awalnya, Jesi ingin meminta kata sandi kartu ATM pada Oliver, tapi sekarang ia benar-benar lupa akan hal itu dan yang ia ingat hanyalah interaksi Olivia dan Presiden yang saling memandang dan berpegangan tangan.


Saat Jesi memikirkannya, ia merasakan sesak di dadanya.


Kenapa Olivia sangat beruntung?

__ADS_1


...—oOo—...


Dua hari kemudian.


Olivia mengalami demam seperti yang diduga.


Saat maid membangunkannya pagi ini, ia benar-benar pusing dan berkeringat di sekujur tubuhnya.


Olivia menyentuh dahinya, ia ketakutan saat merasakan panas yang luar biasa.


Apakah ini disebabkan oleh virus?


Apakah aku benar-benar tertular virus di rumah sakit sejak dua hari yang lalu?


"Nyonya Olivia, Anda sudah bangun?" tanpa mengetahui apa-apa, maid itu mengetuk pintu lagi. "Anda akan terlambat pergi bekerja."


"Saya sudah bangun," jawab Olivia, lalu ia menyadari suaranya menjadi serak.


Wanita itu berpikir sejenak. "Saya tidak sarapan, silahkan turun dan beri tahu Pak Presiden dan tuan muda, mereka tidak perlu menunggu saya. Karena … saya sedang mandi sekarang," lanjut Olivia kemudian.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2