
"Menghilangkan kekhawatirannya..." Yuta tak menunggu jawaban dari Olivia.
Mata Yuta agak berkaca-kaca dan bingung saat ia menatap cairan di gelas, lalu pria itu mulai berpikir lebih dalam. "Bagaimana mungkin wine menjadi solusi untuk kekhawatiran ini? Jika wine bisa mengatasi semua kekhawatiran, aku tak akan lagi kesulitan tidur sepanjang malam."
Yuta merasa heran bagaimana wine bisa memberikan solusi pada kekhawatirannya yang kompleks. Ia sadar bahwa mengandalkan alkohol bukanlah solusi yang tepat dan tak akan membantunya mengatasi masalah yang sebenarnya.
Olivia terlihat bingung dan tak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan Yuta. Wanita itu hanya menatap Olvi dengan linglung. "Mama tidak mabuk, Mama hanya minum. Tapi kenapa Mama bisa merasa pusing?" Olivia berbicara dengan nada yang terdengar seperti orang yang mabuk.
Hal itu, membuat Olvi menepuk-nepuk jidatnya sendiri, merasa bingung dan tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi sebagai seorang anak.
Olvi merasa tak berdaya dan tertekan. "Mama, aku tidak bisa membantumu lagi. Mama harus berhenti minum!"
Yuta menatap Olivia dengan tatapan tak bisa berpaling dan tak bisa menjauh untuk sementara waktu.
Meskipun terlihat mabuk, Olivia masih terlihat imut di mata Yuta. Pria itu teringat momen ketika mereka pertama kali bertemu di taman hiburan.
Saat itu, Olivia terlihat sangat cantik dan polos.
__ADS_1
Setelah minum, tampaknya keberanian Yuta semakin meningkat. Matanya memandang Olivia dengan tegas tanpa ragu. Jesi yang berada di sebelahnya mulai merasa ada yang tak beres, bahkan Olvi, si kecil yang melihatnya, merasakan keanehan tersebut.
"Om, kenapa Om menatap Mamaku seperti itu?" Olvi membuka matanya lebar-lebar dan bertanya dengan polos.
Olivia mengangkat kepalanya dengan terhuyung-huyung dan menatap putranya. "Ada apa?"
Tangan kecil Olvi menyentuh wajah Olivia dengan lembut. "Jangan khawatir, Mama harus makan agar perutnya tidak sakit setelah minum banyak."
"Baiklah, Mama akan mendengarkanmu." Olivia tersenyum cerah.
Yuta tidak memalingkan mukanya, wajah Julia terlihat masam dan ia menggenggam sendok dengan kencang.
Julia menggigit bibirnya, lalu cengkraman pada sendoknya mulai melemah.
Jesi melanjutkan. "Orang tuamu baik-baik saja, kan? Apakah keluargamu tidak puas dengan keluarga kami? Jika itu karena penyakit Tuan Stein, maka itu sudah selesai sekarang. Sudah waktunya untuk membicarakan pernikahan kalian sekarang. Ibu, bagaimana menurutmu?"
Mata sang nenek tajam dan sengit, melirik Yuta dan pandangannya tertuju pada wajah Olivia dan Julia, kemudian wanita tua itu mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Sudah waktunya untuk membicarakan pernikahan ini. Karena kalian sudah bertunangan, kita juga tidak bisa menundanya terlalu lama. Kamu sudah mencapai usia yang siap untuk menikah, jadi tolong beritahu nenek. Nenek akan membicarakannya dengan orang tuamu."
__ADS_1
Julia merasa sangat senang dan dengan cepat berkata. "Terima kasih, Nenek. Nenek paling the best."
Julia berbalik dan meraih lengan Yuta. "Kak Yuta, Kakak datang malam ini, bukannya harus membahas pernikahan kita secepatnya, oke?"
Yuta melirik sejenak, tapi akhirnya ia melepaskan tangan Julia dari genggamannya. Wajah Julia tampak kesal dan ia hanya bisa mendengar Yuta berkata. "Maaf, Nenek, Tuan Stein. Sebenarnya, alasan saya berada di sini malam ini adalah untuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada kalian."
Tiba-tiba, ekspresi wajah semua orang di meja makan berubah.
Yuta menatap Olivia dan kemudian berkata. "Maaf, saya tidak bisa menikah dengan Julia."
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~