
Beberapa saat kemudian...
Terlihat, seorang maid lain mendatangi Olivia yang tengah duduk di gazebo, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut hangat.
"Nyonya, tolong gunakan ini untuk menghangatkan tubuh Anda, karena di luar udaranya sangat dingin saya sangat khawatir Anda akan kenapa-napa," ucap maid itu khawatir.
"Nyonya, tubuh Anda masih belum terlalu sehat, jadi Anda tidak bisa lama-lama berada di luar," lanjut maid itu mengingatkan.
Setelah mendengar itu, entah mengapa perasaan Olivia jadi lebih baik. Mungkinkah seperti ini rasanya diperhatikan? batin Olivia.
"Te-terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku," ucap Olivia terbata lalu tersenyum hangat.
Melihat Julia datang dari kejauhan, Rena dengan sengaja meninggikan suaranya. "Iya, Olivia! Kamu kan tidak seperti dulu lagi!? Kalau kamu itu kenapa-napa, Pak Presiden akan sangat mengkhawatirkanmu!"
Mendengar Rena berbicara tak seperti biasanya, Olivia langsung memahami apa maksud perkataan Rena dan ia ingin tertawa saat itu juga.
__ADS_1
"Stop, Ren! Kalau Pak Presiden mendengarnya, nanti kita yang akan malu!" bisik Olivia mengingatkan Rena.
"Haha, tenang saja, Olivia! Serahkan semuanya padaku! Selama Pak Presiden yang terhormat itu tidak mengetahuinya, maka kita berdua akan aman! Mari kita lakukan sandiwara ini dulu," balas Rena yang juga berbisik di telinga Olivia.
Setelah mendengarkan perkataan Rena yang memang sengaja agar didengar oleh Julia, entah kenapa Julia termakan provokasi Rena.
Julia merasa sangat kesal, apalagi saat ia melihat wajah bahagia Olivia, ia tak bisa mengendalikan amarah yang kini membara di dalam hatinya.
Wanita seperti Olivia ... tidak pantas bahagia! batin Julia dengan tatapan penuh dendam.
"Olivia, apa yang kau inginkan dariku?" tanya Julia dingin dan tanpa basa-basi.
"A-apa maksudmu, Julia?" tanya Olivia dengan ekspresi terkejut dan juga bingung.
"Jangan sok tidak tahu dan tidak bersalah, Olivia! Kau kan yang mengadukan aku kepada Pak Presiden sampai membuatku dipecat? Dan sekarang, kau bertingkah seolah-olah tidak ada yang terjadi, huh!?"
__ADS_1
Olivia sangat terkejut sampai ia berdiri dari tempat duduknya di gazebo dengan selimut di lengannya. "Ke-kenapa Pak Presiden sampai membuat kamu dipecat?"
"Jelas, karena Pak Presiden mencintaimu, Olivia! Sangat mudah bagi orang seperti Pak Presiden membuat orang-orang yang menyakitimu menerima ganjaran yang setimpal!" sela Rena dengan nada penuh kesenangan sambil menatap Julia. "Sebenarnya, memecatmu saja masih belum cukup! Seharusnya, kau itu menghilang saja dari kehidupan Olivia! Kau itu tidak bodoh jadi kau pasti mengerti apa maksudku, kan?" sarkas Rena.
"Tapi Julia … kau kan masih punya tunangan yang luar biasa seperti Yuta? Bahkan jika kau tidak memiliki pekerjaan, bukankah Yuta akan selalu ada untukmu? Lalu, kenapa kau malah mendatangi Olivia untuk curhat dan marah-marah tak jelas kepadanya, huh?" lanjut Rena kemudian.
Mendengar nama Yuta disebutkan—Julia malah semakin marah dan menggerakkan giginya dengan murka.
"Sialan kau Olivia!" umpat Julia sambil menatap Olivia dengan tatapan tajam, lalu ia mendengus dan berteriak dengan ganas.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~