Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 285


__ADS_3

Dinginnya angin menembus tubuh Olivia yang kurus, membuatnya gemetar kedinginan. Dalam lampu yang redup, kesepian dan kesunyian yang dirasakannya semakin terasa.


Lucas melihat bagian belakang tubuh Olivia bergetar, menunjukkan bahwa ia sedang mengalami palpitasi. Dada Olivia terasa tersumbat dan ia tampak benar-benar tak sehat.


(Palpitasi adalah sensasi jantung berdenyut kencang, berdebar, tak teratur atau melompat-lompat dan sering mengganggu, namun hampir tak pernah ada tanda-tanda penyakit jantung)


"Diam, Dave! Keluarkan kunci mobil sekarang juga," desak Lucas pada Dave.


Dave mengerutkan bibirnya dan segera mengeluarkan kunci mobil. Lucas memang sangat perhatian pada wanita, pria itu terlalu lembut bahkan tak bisa membiarkan seorang wanita berjalan sendirian di malam hari.


Olivia merasa sangat kedinginan sehingga dia memeluk dirinya sendiri dan menggosok tangannya.


Saat itu, sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya.


Lucas menurunkan jendela dan berkata, "Ayo, biarkan aku mengantarmu!"


Tanpa ragu, Olivia menyetujui tawaran itu dan naik ke dalam mobil Lucas. Karena terlalu banyak orang penting yang berkumpul di sana, ada pengaturan lalu lintas beberapa meter jauhnya, sehingga tak semua mobil bisa masuk.


Jika Olivia pergi sendirian, ia akan sangat rentan terhadap penjahat yang mungkin ingin merampok benda-benda berharganya dan ia tak akan bisa melawan mereka.


Olivia memakai sabuk pengaman


"Pakailah ini!"


Lucas tiba-tiba meletakkan jasnya di bahu Olivia sehingga bahu wanita itu terasa hangat.

__ADS_1


Olivia merasa lebih baik dan mendekat ke arah Lucas." Terima kasih. "


"Kamu pulang ke rumah?" tanya Lucas.


Olivia menghela nafas dan mengangguk, matanya tak sengaja terpantul keluar jendela. Olivia melihat beberapa mobil yang ia kenal melintas di depan mereka.


Mobil-mobil itu adalah milik rombongan Alio dan


pria itu berada di acara amal.


Alio berpartisipasi di dalamnya, Olivia benar-benar tak tahu harus berpikir apa.


Sementara itu, Lucas memperhatikan Olivia yang memandang keluar jendela sambil melamun, kemudian Lucas mengikuti garis pandangan Olivia.


Olivia menoleh dan menggelengkan kepalanya, kemudian ia menjawab. "Mungkin."


"Tadi ketika kak Hansel baru datang, dia memberitahuku bahwa..."


Setelah mengatakan itu, Lucas berhenti sejenak lalu melirik kearah Olivia, kemudian pria itu melanjutkan perkataanya lagi. "Nona Angela dan Pak Presiden akan bertunangan dalam 20 hari."


"Apakah kamu sibuk sekarang? "Olivia tiba-tiba memotong, seolah-olah ia sama sekali tak mendengarkan perkataan Lucas tadi.


Lucas terdiam sejenak dan menggelengkan kepalanya.


"Waktuku cukup luang, jadi aku cukup bebas malam ini."

__ADS_1


"Bisakah kamu membawaku berkeliling?" pinta Olivia.


Lucas memandang Olivia.


Wanita itu tampak sangat tenang, seolah-olah tak ada yang terjadi dan Olivia tak peduli. Namun, jauh di lubuk matanya, kesunyian dan keremangan tak dapat disembunyikan.


Lucas tak ragu dan langsung mengangguk. "Tentu saja, kamu bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."


"Terima kasih," bisik Olivia sambil mencondongkan kepalanya ke jendela. Matanya terfokus pada jendela kosong di depannya, yang hanya menampilkan gambaran abu-abu dari lampu-lampu jalan di sepanjang kota.


Tiba-tiba, Olivia merasa sedih dan merindukan Olvi, dadanya terasa sakit. Olivia menyadari bahwa jika Olvi benar-benar pergi dari hidupnya, ia akan kehilangan segalanya.


Olivia perlahan-lahan menutup matanya dan mencoba meredakan sakit di hatinya.


Meskipun pemanas mobil sudah menyala, udara tetap terasa dingin.


Tanpa sadar, Olivia mengencangkan jas Lucas lebih erat di tubuhnya.


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~

__ADS_1


__ADS_2