
Setelah selesai membersihkan apartemennya Olivia langsung mempersiapkan dirinya untuk acara besar malam ini.
Olivia pun membuka laptopnya lalu membaca susunan acara malam ini dan juga, ia mencari tahu siapa saja yang akan hadir disana!
Dan pada acara malam ini, Olivia akan menjadi penerjemah Wakil Menteri Kementerian Urusan Sipil.
Setelah Olivia menyiapkan semuanya, dua jam kemudian, ia membaca undangan acara amal itu.
Dalam undangan tersebut terdapat pemberitahuan bahwa setiap orang yang menghadiri acara amal tersebut diharuskan mengenakan jas atau gaun.
Olivia merasa sakit kepala.
Meskipun ia memiliki sebuah gaun, gaun tersebut hanya cocok digunakan untuk acara kecil.
Acara yang besar seperti ini memerlukan gaun yang lebih elegan.
Ketika sedang merasa sakit kepala, handphone Olivia tiba-tiba berdering dan nama di layar handphone-nya membuatnya terdiam sejenak.
Olivia memutuskan untuk meletakkan mouse dan menjawab telpon tersebut.
"Apakah Olvi masih bersamamu?" tanya suara di seberang telepon.
"Tidak. Aku meminta sopir untuk menjemputnya, aku mendapatkan pekerjaan mendadak dan tidak bisa menemani dia," jawab Olivia.
"Pekerjaan apa itu?" tanya suara di seberang telepon.
"Acara amal yang dihadiri oleh Wakil Presiden. Saya bertanggung jawab sebagai penerjemah untuk Wakil Perdana Menteri," jelas Olivia.
__ADS_1
Alio tak mengatakan apa-apa dan Olivia pun tak ada hal yang ingin ia katakan, jadi mereka berdua terdiam.
Beberapa saat kemudian, Alio mengatakan. "Tunggu di apartemen dan jangan pergi ke mana-mana!"
Olivia tak mengerti maksud Alio dan pria itu tak punya niat untuk menjelaskan.
Setelah keduanya menutup telepon, Olivia mulai memeriksa gaun-gaun yang tersimpan di lemari satu per satu.
Namun, tak ada yang cocok, terpaksa Olivia harus menyewa gaun.
Namun, Alio meminta agar Olivia menunggu di apartemen dan tak pergi ke mana-mana.
Sekarang, Olivia menjadi bingung dengan apa yang harus ia lakukan.
Olivia melirik jam di tangannya.
Namun, Olivia masih ingin memeriksa beberapa informasi lagi sebelum berangkat.
Olivia memegang laptopnya dan melihatnya sebentar.
Sementara itu, bel apartemennya berbunyi.
Karena penasaran, Olivia bangkit dan membuka pintu.
Di luar pintu, berdiri seorang wanita yang sangat cantik mengenakan gaun elegan hitam dan putih.
"Nyonya Olivia."
__ADS_1
Wanita itu tersenyum, membungkuk sedikit dan menyambutnya.
Olivia tak mengenal wanita itu dan ingin bertanya, tapi wanita itu langsung memperkenalkan dirinya. "Pak Presiden yang secara khusus meminta saya untuk datang, panggil saja saya Brisia."
Pak presiden seharusnya merujuk ke Alio.
Olivia melirik ke belakang, Brisia ini membawa banyak orang bersamanya, sepertinya memang Alio yang memerintahkan mereka.
Olivia sedikit tersenyum dan memberi jalan. "Silahkan masuk."
Brisia mengangguk dan masuk, wanita itu diikuti oleh beberapa orang dan masing-masing orang memegang sesuatu di tangannya.
Olivia bingung dan bertanya-tanya apa yang direncanakan Alio.
"Keluarkan barang-barang itu dan biarkan Nyonya Olivia memilihnya!" perintah Brisia pada orang yang dibawanya.
Setelah itu, mereka mengeluarkan tiga gaun yang benar-benar berbeda, gaun-gaun mewah dan elegan perlahan muncul di hadapan Olivia.
Brisia memandang Olivia sambil tersenyum. "Nyonya Olivia, pilih satu. Ketiganya berasal dari designer El yang terkenal. Dan masing-masing ini hanya ada satu di dunia. Gaun yang sangat langka."
"Apakah aku disuruh untuk memilih satu? Kalian serius, kan?" Olivia melihat mereka dengan tatapan sedikit ragu.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~