Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 356


__ADS_3

"Tunggu sebentar," jawab Lucas menghentikan aktivitasnya dan berjalan dari kamar suite presiden ke ruangan lain. 


Nyonya Obella sedang mencuci tangannya dan Lucas menyodongkan handphonenya. "Telepon dari Nona Olivia, menanyakan kondisi Anda."


Nyonya Obella langsung tersenyum saat mendengar itu adalah telpon dari Olivia, lalu ia buru-buru mengambil handphone Lucas. "Nona Olivia, kamu sangat baik."


"Nyonya Obella, sekarang bagaimana keadaan Anda?"


"Jangan terlalu khawatir, saya baik-baik saja sekarang. Saya akan kembali ke inggris besok, bukankah saya membuat kamu takut pada hari itu? "


"Tidak Nyonya, tapi saya benar-benar khawatir hari itu. Sekarang Anda baik-baik saja itu yang terpenting. "


"Lucas bilang kamu juga memiliki darah tipe O negatif ? Dan kamu yang memberi saya donor darah, meskipun terakhir kali saya tidak sempat berterimakasih. Tapi kali ini saya benar-benar ingin mengucapkan terima kasih. "


"Tidak masalah Nyonya, kedepannya di negara inggris Anda benar-benar harus menjaga kesehatan. Kalau kebetulan ... maksud saya kalau suatu saat Anda membutuhkan darah, Anda harus langsung menelpon saya secepat mungkin. Tapi saya sangat berharap bahwa Anda akan baik-baik saja."


Nyonya Obella tersenyum, hatinya dipenuhi dengan kehangatan dan kenyamanan. "Kamu adalah gadis yang baik dan perhatian, aku benar-benar iri pada orang tuamu."

__ADS_1


Olivia ingat bahwa dia telah terpisah dari ibunya ketika dia berusia 8 tahun dan hatinya juga penuh dengan kepedihan, Olivia hanya berkata. "Pasti putri Anda akan lebih perhatian seperti itu."


"Aku sangat menyukaimu, suatu hari nanti, jika ada kesempatan untuk bertemu dengan putriku lagi, aku harus menjadikan kamu temannya."


"Baiklah, maka saya akan menantikan hari itu, saya percaya hari itu akan segera datang."


Olivia berpikir, mempercayakan Lucas  untuk membantu menemukan putrinya mungkin adalah pilihan terbaik Nyonya Obella saat ini, jadi seharusnya mereka bisa menemukannya dengan cepat.


...—oOo—...


Olivia membungkus dirinya dengan selimut dan bersandar di sofa untuk menonton TV, tak lama kemudian, ia mulai merasa mengantuk.


Alio bilang, dia akan datang untuk menemui Olivia di malam hari, tapi sekarang sudah larut malam, mungkin pria itu tak jadi datang.


Setelah berpikir sejenak, akhirnya Olivia memutuskan untuk tak menelepon Alio.


Olivia khawatir akan mengganggu Alio. Terlepas dari apakah pria itu masih sibuk atau sudah tidur, meneleponnya pada saat tengah malam begini bukanlah hal yang baik.

__ADS_1


Olivia menghela nafas, ia memegang handphonenya sambil menatap kegelapan malam di luar, perasaannya menjadi sedikit hampa.


Kemudian, Olivia bangkit dari sofa, mematikan televisi, melipat selimut dengan rapi dan meletakkannya di pojok sofa, mematikan lampu ruang tamu dan bersiap untuk pergi tidur ke kamarnya.


Tepat pada saat itu, handphonenya berdering. Di dalam kegelapan, layar handphonenya memancarkan cahaya redup.


Olivia masih dalam keadaan setengah sadar, tapi ketika melihat kata-kata 'Om sangar' di layar handphonenya, ia tiba-tiba menjadi lebih sadar.


"Halo," Olivia langsung menjawab, sampai ia sendiri tak sadar kalau nada bicaranya penuh harap.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2