Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 211


__ADS_3

Sikat gigi, pasta gigi dan juga handuk.


"Ah, aku lupa membawa piyama," ucap Olivi.


Olivia pikir putranya pasti ingin menginap, ia membuka lemari dan menemukan bajunya yang sudah sangat kecil di dalam sana. 


Olvi pasti tak nyaman mengenakan seragam sekolah, apalagi saat tidur dengan seragam sekolah bukanlah ide yang baik. 


Tapi bajunya terlalu besar untuk Olvi. "Ini akan membantu sampai Mama membelikan yang baru untukmu. Haruskah kita berbelanja setelah makan malam? Kamu membutuhkan piyama baru."


"Oke."


"Kenapa kamu membawa semua barang ini?" tanya Olivia.


"Aku sama seperti Mama," jawab Olvi.


"Apa maksudmu? Sama seperti Mama?" tanya Olivia bingung.


"Aku kabur dari rumah! Sama seperti Mama!" jawab Olvi melingkarkan tangannya di leher Olivia. "Mama, aku akan tetap bersamamu! Jika Mama di sini, aku juga harus di sini."


Mendengar itu, Olivia merasa senang dan puas. "Kamu pantas mendapatkan cinta Mama."


Tapi…


Olvi tak mengerti apa yang terjadi sekarang, ia adalah orang yang kabur dari rumah, tapi Mamanya tidak. 


Karena Mamanya merasa rumah itu sama sekali bukan rumahnya.


"Apakah Papamu tahu kamu ada di sini?" tanya Olivia.

__ADS_1


"Tidak, aku belum memberitahu Papa, dia bilang aku menyebalkan," jawab Olvi mengeluh. "Emosi Papa semakin buruk hari ini, aku bahkan tidak tahan dengan sikap Papa."


Olivia sangat setuju, ia tahu persis temperamen buruk Alio setelah pesta ulang tahun pria itu.


"Kemarahan Papamu akan semakin buruk jika kamu melarikan diri dari rumah," ucap Olivia menghela nafas.


"Apa yang harus aku lakukan?" sahut Olvi sedikit mengerutkan kening. "Aku tidak ingin meninggalkan Mama."


Bagaimana Olivia bisa tahan berpisah dengan putranya? Olivia menyentuh wajah mungil Olvi yang menggemaskan. 


"Mama akan bicara dengan Papamu nanti, untuk bertanya apakah kamu bisa tinggal bersama Mama disini malam ini."


"Oke!" Olvi mengangguk dengan cepat. 


Namun, detik berikutnya anak itu menjadi kesal lagi. "Tapi aku merindukan Papa jika aku tinggal bersama Mama, disisi lain aku juga tidak ingin meninggalkan Papa"


"..."


"Kamu yang putuskan, kamu tidak bisa tinggal bersama kami berdua," ucap Olivia berjalan ke dapur. "Kamu bisa tinggal di sini selama beberapa hari dan kemudian pulang ke rumah Papamu selama beberapa hari. Atau kamu putuskan dengan siapa kamu ingin tinggal, mau bagaimanapun, Mama tidak akan kembali ke sana."


"Kenapa tidak?" tanya Olvi mengikuti Olivia perlahan-lahan dengan baju yang kebesaran. "Apakah Mama masih marah pada Papa?"


"Tidak."


"Lalu kenapa?"


"Itu masalah kami, kamu tidak akan mengerti, sayang.''


Olivia menyajikan makanan dan menuangkan susu.

__ADS_1


Olvi meminta susu dengan tangan kecilnya yang imut, jadi Olivia memberi anak itu segelas susu.


Olvi tak mendongak dari minumannya sampai ia menghabiskannya. "Mama, Papa menyukaimu, jadi Mama jangan marah lagi pada Papa, oke?"


"Tidak, Mama tidak marah padanya, Mama hanya tidak bisa tidur."


"..." Olvi tampak kesal dan kepala kecilnya menunduk, terlalu sulit baginya untuk menyatukan kedua orangtuanya.


Apa yang akan Olvi dapatkan pada akhirnya? Keluarga yang tercabik-cabik?


Semakin Olvi memikirkannya, semakin ia merasa kesal. Anak-anak lain sama sekali tak seperti dia!


Mereka semua memiliki keluarga yang bahagia!


"Huh, betapa rumitnya hidup yang aku jalani!" ucap Olvi menghela nafas dan berjalan keluar dari dapur.


Tiba-tiba Olivia merasa hatinya sakit.


Olvi kecilnya selalu positif dan berpikir dewasa.


Anak itu dulu merasa cukup meski hanya memiliki orangtua tunggal.


Tapi ... segalanya berbeda sekarang.


Olvi mulai berharap lebih saat Alio muncul dalam hidup mereka.


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2