
"Siapa yang Kak Alio maksud? Kak Olivia, ya?" tanya Arnold terlihat sangat penasaran.
"Bukan!" sanggah Alio, lalu berpikir sejenak, sebelum ia melanjutkan perkataannya, "yang aku maksud itu adalah temanku! Dia, kan, punya pacar baru, tapi pacarnya itu lagi ada masalah besar."
Saat mendengar itu, Arnold hanya bisa tersenyum samar, ia tahu kalau teman yang kakaknya maksud adalah kakaknya itu sendiri.
Secara, Alio itu sangat memilah orang yang akan dijadikannya teman, oleh karena itulah Alio tak punya banyak teman. Jadi, teman manakah yang Alio maksud?
Walaupun Arnold tahu, ia tak mengatakan apapun, ia terus mendengar curhatan sang kakak sampai selesai.
"Dia tak pernah meminta bantuan siapapun sampai sekarang kalau dia lagi ada masalah dan hanya bilang kalau dia itu tidak mau merepotkan orang lain. Jadi, yang mau kutanyakan adalah, ini keadaan yang wajar atau tidak, sih?" tanya Alio serius.
"Hmm, situasi ini juga membuatku bingung, apakah ini wajar ataukah tidak?" jawab Arnold, yang tak kalah serius dari kakaknya. "Mungkin, teman Kak Alio nggak terlalu menyukai pacar barunya?" lanjutnya.
"Tidak suka? Kenapa tidak suka?" tanya Alio lagi yang terlihat sangat kesal dengan jawabannya Arnold. "Bukannya kau juga tidak tahu, ya? Apakah itu wajar ataukah tidak? Tapi, kenapa kau malah asal jawab?"
__ADS_1
Arnold tak menyangka, kalau Alio akan baper dengan candaannya itu. "Ya sudahlah, aku memang nggak tahu dan juga nggak mau jadi orang yang sok tahu."
Alio mendengus dan tetap diam, tak lama kemudian suaranya kembali terdengar, "Tadi, barusan kau bilang … tidak terlalu suka, kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Bisa aku jelasin sekarang?"
"Kalau mau menjelaskan, langsung jelaskan saja! Kenapa pakai nanya segala?"
Arnold langsung berdehem, lalu berkata, "Aku memang nggak terlalu mengerti soal wanita, tapi aku beda sama kamu, Bro! Bahkan, sampai sekarang kamu masih belum pernah pacaran—"
"Aduh, enggak, jelas enggak dong! Aku, kan, hanya bilang kalau Kak Alio itu nggak pernah pacaran, tapi itu fakta, kan?" jelas Arnold, yang entah kenapa perkataannya itu langsung menusuk jantung Alio.
"Kembali ke topik utama," ucap Alio sambil menyilangkan tangannya didepan dada.
"Dulu, waktu aku pacaran, kalau ada masalah sedikit saja, pacarku itu langsung heboh banget sampai meneleponku puluhan kali sehari! Dan waktu itu, aku masih belum kerja. Jadi, aku mempunyai banyak waktu luang untuk pacaran. Pacarku itu, lengket banget kayak perangko, dan suka banget bikin aku repot, tapi it's okay karena itu namanya cinta,"
__ADS_1
"Jadi, kalau memang temanmu peduli dengan pacarnya, dia pasti akan memberikan kabar sesibuk apapun dia! Di dunia ini, nggak ada orang yang sangat sibuk untuk orang yang dicintainya, yang ada kalau kamu itu bukanlah prioritasnya, paham?"
"Oke, cukup. Aku sudah mengerti," ucap Alio yang merasa, kalau kali ini Arnold terlalu banyak bicara.
Alio mencabut earphone-nya, lalu memeriksa handphonenya lagi, tapi handphonenya masih terlihat sangat sepi—karena tidak ada satu pesan pun yang masuk.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1