Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 376


__ADS_3

Olivia sama sekali tak memberontak, wajah cantiknya tengelam di leher Alio, pria itu bisa merasakan bulu mata Olivia yang bergetar sedikit basah karena air mata.


Seperti rasa putus asa namun juga puas, Alio menghela nafas dalam-dalam, memeluk Olivia dengan tenang dan jari panjangnya menyentuh ujung rambut wanita itu dengan lembut.


"Kau sungguh terkejut?"


Yang pertama bicara adalah Alio. Kali ini, Alio tak bertanya tentang sesuatu yang baru saja terjadi, tapi tentang kejadian terakhir.


Olivia perlahan mundur dari leher Alio dan menggelengkan kepala. "Aku tidak terkejut."


Alio menundukkan kepalanya dan melihat ke arah Olivia. Di dalam mata wanita itu, masih ada air mata yang tertahan, karena itu matanya semakin terang dan berkilau.


"Tapi kenapa menangis jika tidak terkejut?" tanya Alio dengan suara pelan.


Olivia menggigit bibirnya, memalingkan wajahnya dan diam-diam mengusap air matanya.


Air mata ini sebenarnya tak ada hubungannya dengan keterkejutan—hanya rasa khawatir.


Olivia benar-benar sangat khawatir dengan Alio, itulah sebabnya pada saat bertemu dengan pria itu, tiba-tiba ... emosinya sulit dikendalikan.

__ADS_1


Alio menatap wajah Olivia, dengan mata yang memancarkan kehangatan, membuat Olivia merasa tersipu dan berdebar-debar.


Barulah saat itu Olivia menyadari bahwa emosinya tadi sedikit tak terkendali.


Olivia merasa canggung, ia buru-buru menjauhkan diri dari pria itu dan mencari topik pembicaraan. "Apakah kamu sudah makan malam?" tanyanya dengan suara lembut.


Setelah meluapkan emosi, Olivia merasa suasana hatinya jadi lebih baik.


Begitu bertemu Alio, kegelisahan yang ia tertahan selama beberapa hari ini langsung hilang begitu saja. Olivia tahu, Alio pasti bisa mengatasi semua masalah.


Alio itu seperti langit, karena langit tak akan runtuh.


Olivia sedikit berjinjit saat menggantungkan jas itu di samping jaketnya, lalu menoleh ke arah Alio. "Kalau begitu kamu mandi dulu, aku akan periksa dapur untuk melihat apakah ada yang bisa dimasak atau tidak. Kalau tidak ada, kita bisa menggunakan room service, kan?"


Alio mengerutkan keningnya. "Makanan di hotel juga biasa saja."


"Jika tidak ada yang lain, kita pasrah saja dengan itu," ucap Olivia sambil bercanda, "Pak Presiden, malam ini jangan pilih-pilih makan!"


Setelah mengatakan itu, Olivia berbalik pergi ke dapur. Melihat punggung wanita itu, Alio teringat akan moment antara mereka berdua, raut lelah di antara alis pria itu tiba-tiba hilang.

__ADS_1


Bertemu dengan Olivia saat situasi seperti ini pasti berbahaya. Namun, Alio tahu betul bertemu wanita itu sebanding dengan resikonya.


...—oOo—...


Olivia sangat bingung mau memasak apa, karena bahan-bahan makanan yang ada di dapur kurang lengkap. Olivia tak mau masakannya kurang totalitas karena kekurangan bahan, jadi ia memutuskan untuk memesan makanan melalui room service.


Setelah itu, Olivia pun duduk santai di sofa ruang tamu sambil menunggu makanan yang dipesannya datang.


Saat ini, Alio berada di dalam kamarnya dan kemungkinan, pria itu sedang mandi.


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2