Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 266


__ADS_3

"Aku akan membuatkanmu makan," ucap Olivia sambil berjalan ke dapur. Ia mengenakan celemek dan merebus air, kemudian menaruhnya di atas meja dan mengambil telur dari kulkas untuk dipecahkan ke dalam mangkuk.


Sambil mengaduk telur dengan sendok, Olivia melanjutkan mempersiapkan sarapan.


Sementara itu, Alio menyalakan televisi dan bersandar di sofa. Berbagai acara hiburan tayang di layar, namun tak ada yang menarik perhatiannya. Alio melirik ke arah Olivia di dapur, sambil merasa bosan dan tak tertarik dengan tontonan televisi.


Alio mencoba mengganti saluran ke stasiun militer, namun laporan di sana juga tak menarik. Di dapur, suara panci dan wajan terdengar cukup bersemangat, sehingga perhatian Alio kembali tertuju pada Olivia.


Alio melihat Olivia sibuk di dapur dan merasa bahwa suara-suara yang berasal dari situ jauh lebih menarik daripada acara televisi.


Perasaan hangat dan kepuasan muncul di dalam hati pria itu.


Biasanya, Alio tak pernah menginjakkan kakinya di dapur di mansion keluarga Wilson. Bahkan jika ada suara, Alio merasa itu tak menarik, berisik dan mengganggu, sehingga tak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya.


Namun, ketika Olivia tak berada di kediaman Presiden minggu ini, Alio merasa bahwa seluruh mansion menjadi tak bernyawa.


Setiap malam, tanpa sadar, Alio berhenti di depan pintu kamar Olivia di mansion. Sebenarnya, cukup jelas tak ada seorang pun di ruangan itu.

__ADS_1


Olivia sangat cepat dalam mempersiapkan makanan.


Dalam waktu sepuluh menit, wanita itu  sudah keluar dari dapur dengan semangkuk mie yang terlihat sangat lezat karena ditutupi dengan telur dan di taburi bawang bombai.


"Kamu bisa makan bawang, kan?" tanya Olivia dengan sungguh-sungguh.


Alio mengangguk, lalu melangkah ke meja makan dan duduk di sana. Setelah melepas celemek, Olivia meletakkannya di dapur.


Ketika Olivia kembali, Alio sangat menikmati mie buatan Olivia, dan Olivia melihat senyum kepuasan di wajah Alio.


"Kenapa kau hanya berdiri di situ?" tanya Alio.


Alio mendongak dan menatap Olivia yang berada tepat di seberangnya. "Duduk!" ujarnya tegas. Dengan cepat, Alio menyuruh Olivia untuk duduk di hadapannya.


Setelah itu, Olivia membuka pembicaraan, "Bagaimana perasaanmu?"


Alio menatap Olivia sekilas, tapi dia tidak merespons pertanyaan Olivia. Ia melanjutkan makan mi di hadapannya dengan lahap. Olivia mengangkat bibirnya sambil tersenyum, pada saat seperti ini Alio sangat menggemaskan saat Olivia menilai Alio dibenaknya. "Kamu sangat menikmatinya, ya?"

__ADS_1


Olivia tersenyum dan Alio menghentikan aktivitasnya sambil menyipitkan matanya. "Aku sangat lapar, tahu," ujarnya.


Dibawah cahaya, wajah Olivia terlihat sangat jelas. Pembawaan tenang dan damai dari Olivia membuat suasana terasa adem dan nyaman. Alio menilai bahwa Olivia memiliki kecantikan visual yang indah, seperti bintang malam yang bersinar.


Sangat menawan.


Alio menatap Olivia tanpa berkedip, matanya tampak gelap. Namun, ia tidak dapat menahan senyumnya sedikit ketika merasa bahwa Olivia merasa tidak nyaman di sekitarnya. Alio merasa bersalah karena selalu mengekang Olivia untuk tetap berada di sisinya. Ia ingin dapat berbicara dengan Olivia dengan bebas seperti teman biasa.


"Secara teori, kau lahir dari keluarga dengan latar belakang yang baik, dan kau dapat mengelola keluarga dengan baik sebagai seorang istri. Masakanmu juga terlihat sangat terampil," ujarnya.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~

__ADS_1


__ADS_2