
Olivia menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Rena, ia masih menatap TV.
"Mengapa belum ada laporan lebih lanjut?" Olivia sangat khawatir.
"Ini bukan waktunya menonton berita!" seru Rena. "Laporan kinerja selama magang akan segera dimulai, kita harus bersiap untuk itu."
"Rena, kamu pergi saja, aku akan tetap di sini untuk melihat berita selanjutnya."
Meskipun Olivia sangat ingin menelepon pria itu dan menanyakan keadaannya secara pribadi, tapi ia tak menelpon Alio ataupun Arnold.
Rena bergantian menatap Olivia dan Tv. "Siapa yang sedang kamu khawatirkan sekarang?"
"Pak Pres..." nama itu nyaris keluar dari bibir Olivia, menyadari kalau sudah keceplosan, ia berhenti di tengah kalimat dan terdiam membisu.
Meskipun begitu, Rena mendengarnya dengan jelas dan bertanya. "Pak Presiden?"
Dalam pikiran Olivia, semuanya benar-benar kacau sekarang, ia hampir tak memiliki kekuatan untuk menyembunyikan kebenaran dan hanya mengangguk.
Rena benar-benar berpikir kalau Olivia hanya rakyat biasa yang mengkhawatirkan Pak Presiden.
"Lupakan saja, kamu hanya khawatir. Apakah kamu pikir … kamu perlu mengkhawatirkan Pak Presiden? Selain itu, ada begitu banyak bodyguard di sisinya. Dia akan baik-baik saja. "
__ADS_1
"Benarkah?"
"Tentu saja! Sekarang, tidak ada yang lebih penting daripada penilaian kinerja kamu selama magang. Cepat ikuti aku!" Rena menarik tangan Olivia dan menyeretnya pergi.
Hati Olivia resah dan gelisah. Meskipun ia tak menonton TV, ia terus melihat-lihat berita di ponselnya.
Ada rumor yang mengatakan bahwa itu adalah serangan ******* yang ditujukan pada Presiden.
Tidak ada info adalah berita yang paling buruk!
Olivia merasa sangat gelisah, hingga sebuah berita menyatakan bahwa Presiden aman, ia akhirnya bisa bernafas lega dan tersenyum di wajahnya yang pucat.
Rena menatap Olivia cukup lama dan akhirnya berucap. "Olivia, kamu tampaknya sangat peduli dengan Pak Presiden. Mengapa kamu sangat mengkhawatirkannya?"
"Hm, tentu saja aku khawatir, tapi aku tidak sepeduli kamu. Apa yang kamu lakukan lebih dari mengkhawatirkannya. Jika orang lain melihat reaksimu terhadap Pak Presiden, mereka pasti akan berpikir kamu seperti mengkhawatirkan kekasihmu!"
Kekasih?
Olivia terkejut karena kata-kata yang diucapkan Rena.
Mengapa aku sangat mengkhawatirkan Pak Presiden? Meskipun kami sudah dekat satu sama lain, kami berdua bahkan bukan teman.
__ADS_1
Tidak! Tidak mungkin! Aku tidak sebodoh itu sehingga aku bisa jatuh cinta kepada pria itu!
"Omong kosong." Olivia tegas menyangkal Rena.
Meski kata itu diucapkan kepada Rena tampaknya lebih seperti mengatakan pada dirinya sendiri.
"Jika aku jatuh cinta dengan seseorang, pria itu pasti Yuta. Tidak ada hubungannya dengan Pak Presiden. ”
Rena menatap Olivia sambil tertawa.
"Just kidding! Kenapa kamu sangat serius? Pak Presiden adalah pria tampan yang memiliki prestasi besar dalam karier resminya, jadi semua orang pasti mengkhawatirkannya karena terluka dalam kejadian itu. Tapi penilaian kinerja selama magang akan segera dimulai, aku lebih khawatir dengan itu. "
Begitu…
Aku baru saja mengkhawatirkannya dan itu tak berbeda dengan yang lain. Bukankah itu normal? Itu pasti normal.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~