
"Terima kasih."
Olivia berterima kasih dengan lemah lembut.
Pada saat itu, baik secara fisik maupun mental, Olivia berada di ambang kehancuran, kejadian semalam kembali terlintas di benaknya, para pria itu menyerangnya, bajunya dirobek dan bahkan seseorang menegang dadanya.
Olivia benar-benar tak bisa bertahan lagi, bahkan untuk sedetik, tapi untungnya Alio datang.
Olivia gemetar dan mengambil selimut untuk menutupi dirinya. "Apakah dia ada disini?" tanyanya dengan suara gemetar.
"Apakah Anda bertanya tentang Pak Presiden?"
Olivia mengangguk.
"Pak Presiden sudah pergi ke istana Presiden. Tapi, Pak Presiden sangat mengkhawatirkan Anda, Pak Presiden hampir tidak tidur tadi malam," ucap maid itu mulai mengoceh. "Kalau dipikir-pikir, saya sudah bekerja di sini selama bertahun-tahun dan belum pernah melihat Pak Presiden seperti itu. Pak Presiden sangat menakutkan tadi malam dan ketika Pak Presiden pulang bahkan kepala pelayan pun tidak berani berbicara dengannya."
Olivia teringat adegan-adegan menakutkan semalam, serta tembakan yang terjadi tadi malam.
Olivia ingat kalau Alio menutup matanya, tapi ia masih bisa merasakan atmosfer kekejaman dari Alio, seolah pistol di tangannya terasa seperti mainannya.
Olivia tak pernah melihat sosok Alio yang seperti itu sebelumnya, ia merasa seperti tak mengenal Alio sama sekali.
__ADS_1
Seperti yang dikatakan Lucas dan Alea, Alio mendapatkan posisi ini berdasarkan banyak nyawa yang melayang dan lautan darah.
Olivia tak takut pada Alio, ia hanya mengkhawatirkan pria itu, di dunia Alio orang-orang mudah terbunuh termasuk dirinya sendiri.
Maid itu turun mengambil sarapan untuk Olivia, Olvi yang mendengar bahwa sang ibu telah bangun, ia berlari secepat kilat ingin bertemu dengan Mamanya.
"Mama!"
Begitu anak kesayangannya yang lucu memanggilnya sambil menangis, Olivia mulai merasa sedih tapi ia menyembunyikan perasaan sedih itu.
Olivia menepuk tempat tidurnya sambil tersenyum dan membiarkan Olvi duduk sampingnya.
"Apakah hari ini kamu tidak pergi latihan berkuda?"
"Hari ini latihannya di liburkan, Pak Pelatih bilang hari ini dia sangat sibuk, jadi aku bisa menemani Mama di rumah, aku akan melindungi Mama agar Mama tidak terluka lagi."
"Apakah Mama masih sangat kesakitan?" Olvi mengangkat tangan kecilnya, mencoba menyentuh wajah Olivia.
Tapi, sebelum Olvi menyentuh wajah Mamanya, ia menarik tangannya kembali, anak itu takut Olivia akan merasa kesakitan jika ia menyentuh wajahnya.
"Tidak sakit lagi."
Olivia puas saat mengetahui anak itu peduli padanya.
__ADS_1
Sementara itu, handphone Olivia yang berada di lemari samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi.
Sebelum Olivia menjawabnya, Olvi meraih handphone Olivia.
Melihat nama di layar, Olvi berkata. "Ini Papa."
Olivia mengambil handphonenya, menekan tombol jawab dan menempelkannya ke telinga.
"Kau sudah bangun?" Suara Alio lebih dulu datang dari seberang sana.
"Aku baru saja bangun, terima kasih untuk yang kemarin. Jika kamu tidak ada disana ... aku mungkin...," jawab Olivia melihat kearah Olvi itu dan tak berani melanjutkan, ia tak berani memikirkannya lagi.
"Itu sudah berlalu," ucap Alio, ia tak tak terlalu pandai menghibur orang.
"Tetap di rumah sampai akhir pekan, jangan pergi ke mana pun untuk saat ini."
Olivia benar-benar tak berani berjalan ke luar rumah sekarang, ia sendiri masih tak yakin akan berurusan dengan Angela Scarlett atau bukan.
Tapi, Olivia tak ingin menjadi musuh siapapun.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~