
"Jadi, apa kau bisa melupakanku hanya dalam waktu satu bulan?" tanya Alio sambil menatap Olivia dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jika kau sanggup melakukannya, lakukanlah, Olivia!" perintah Alio dengan ekspresi dingin
"Aku takkan melarangmu! Lakukanlah, apapun yang kau mau!" lanjut Alio, dengan nada suara yang semakin dingin saat menatap Olivia.
"Tapi, jika kau tidak bisa melakukan itu—maka kembalilah! Aku selalu menunggumu disini...," lirih Alio.
Olivia tersenyum kecut—seolah-olah apa yang barusan diucapkan Alio hanyalah bualan saja!
Dan Olivia harap, bisa melupakan Alio dalam waktu singkat!
Setelah itu, Olivia pun menegaskan pada Alio, "Jika setelah satu bulan ternyata—" Olivia memang sengaja menjeda kalimatnya, "Lupakan!" lanjutkan.
Olivia menyadari, bahwa harapannya bersama dengan Alio selamanya tidak akan terwujud!
Oleh karena itulah, Olivia memutuskan—untuk mengakhiri pembicaraan.
Keheningan tercipta di antara mereka, mereka membiarkan situasi itu terjadi.
"Kurang dari sebulan—aku akan membuktikan padamu, bahwa aku sudah melupakan dirimu! Dan pada saat itu, kamu—" Olivia mengangkat kepalanya, lalu menatap Alio—dengan tatapan tajam.
"Yang ada di pikiranmu pada saat itu hanyalah Angela! Dan bahkan kamu akan berpikir untuk tidur dengannya!" sindir Olivia kemudian.
__ADS_1
"Tapi, bagaimana kalau saat itu ... wanita yang ingin aku tiduri adalah dirimu?" tanya Alio.
Setelah mendengar itu, Olivia pun terkejut dan terlihat tak senang dengan jawaban Alio. Lalu, mata Olivia berkaca-kaca tanpa sadar.
"Aku minta maaf, aku tidak akan berhubungan denganmu lagi, bahkan kalau kamu itu adalah seorang Presiden! Aku juga punya harga diri!"
Tiba-tiba Alio mengunci posisi Olivia di dalam mobil.
Lalu, Alio membelai rambut wanita itu dengan lembut, memicu ciuman yang penuh gairah di antara mereka.
Dan ciuman Alio, membuat Olivia—kehilangan banyak oksigen, juga bibirnya mati rasa karena Alio, ia merasa tertekan karena menyadari bahwa Alio sudah memiliki pasangan.
Air mata mulai mengalir dari mata Olivia—dan dalam hatinya—merenung tentang kebenaran dari tindakan mereka yang terlarang!
Akhirnya, Alio pun pergi sementara Olivia—dia masih terdiam ditempatnya sementara waktu.
Lalu Olivia mencengkram erat paper bag yang ia bawa, yang berisi dress dan juga perhiasan yang Alio tidak ambil.
Kedua barang itu sangatlah mahal dan sangat disayangkan kalau dibuang begitu saja!
Olivia yang merasa sangat sedih, menangis di tengah jalan komplek apartemennya, sembari berjongkok.
...—oOo—...
__ADS_1
Ketika Alio tiba di kediaman Presiden. Olvi masih tidak tidur, Begitu dia mendengar suara kedatangan Alio, dia berlari keluar ruangan.
Olvi memanggilnya dengan berteriak, "Papa!"
Alio mengerutkan kening, menatap anak yang memeluk kakinya itu, "Mengapa masih belum tidur?"
"Papa..." Mata besar Olvi memelas.
Alio melirik Olvi, lalu bertanya dengan tenang. "Ada apa?"
"Kapan Papa membawa Mama pulang?"
Alis Alio berkerut, dan menjawab pertanyaan Olvi dengan dingin. "Jangan membahasnya!"
Mata Olvi pun menyipit dan sepertinya karena dua kata yang dingin juga menakutkan itu.
Setelah beberapa saat, Olvi berpikir sejenak, lalu memasang ekspresi wajahnya dengan wajah tegas, "Papa, apakah Papa tahu bahwa Papa melakukan ini dengan sangat tidak bertanggung jawab? Ini sangat parah dan memalukan! Bagaiman bisa Papa tidak membawa Mama pulang?"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~