
"Iya." Olivia mengangguk lagi dan menjelaskan. "Aku pernah melihat Pak Presiden di acara yang diadakan oleh Kementerian Luar Negeri terakhir kali."
"Ohh…," Lucas cemberut dan menghela nafas berat. "Alio Wilson hanya sedikit lebih tinggi dan lebih tampan daripada kakakku. Pada akhirnya, dia yang menjadi Presiden. Tapi aku masih tidak percaya."
''Pfft...,'' Olivia membantah dengan ketidaksetujuan.
"Kamu sangat picik, memiliki wajah tampan dan tinggi bukanlah hal yang penting. Jika dibandingkan dengan saudara laki-lakimu, seandainya Alio tidak memiliki kelebihan dan prestasi, kenapa dia bisa memenangkan perhatian semua warga negara? Reformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bulan lalu, regulasi ekonomi dua bulan lalu, persaingan internasional dengan negara Meksiko tiga bulan lalu dan... "
Olivia menjadi sangat bangga saat ia berbicara seolah-olah ia sangat akrab dengan Pak Presiden.
"Oke, hentikan!" Lucas memotong ucapan Olivia dan pria itu sedikit kesal. "Aku tidak menyangka kamu sangat mengagumi Pak Presiden."
Mengagumi?
Olivia tiba-tiba teringat saat terakhir kali Alio bilang kalau cintanya akan membuat pria itu merasa terbebani. Kemudian Olivia secara tak sadar membantah. "Aku? Tidak tuh!"
"Ekspresimu mengkhianati kata-katamu!" Lucas mengulurkan tangan dan menggambar lingkaran dengan jari telunjuknya di depan wajah Olivia. "Akui saja!"
"Astagah!" Olivia mendorong tangan Lucas.
Lucas tertawa lalu ia meletakkan minumannya. "Lupakan saja, ayo aku akan mengajarimu cara bermain golf!"
__ADS_1
...—oOo—...
Di kawal oleh Arnold, Alio turun dari mobil terlebih dahulu, diikuti oleh Tuan Rei dan Yuta di sebelahnya.
Yuta baru saja dipindahkan ke istana putih Presiden.
Dipimpin oleh staf, mereka pergi ke tempat lapangan golf.
Arnold bermata tajam, ia melihat sosok yang familiar di depannya.
"Kakak, sepertinya itu kak Olivia." Arnold memelankan suaranya dan berbisik di telinga Alio.
Alio menatap objek yang dimaksud dari jauh.
Tidak! lebih tepatnya, mereka tak bermain golf, tetapi saling menggoda!
Pria itu memeluk Olivia dari belakang, tangannya memegangi tangan Olivia untuk menggerakkan tongkat golf. Mereka tampaknya bersenang-senang, wanita itu menunjukkan senyum lebar di wajahnya.
Alio hanya melirik mereka, lalu pria itu menjadi agak marah. Pak Presiden mengalihkan pandangannya dengan wajah dingin tanpa ekspresi dan berbalik untuk berbicara dengan Tuan Rei.
Selain itu, sebagai translator, Yuta juga melihat pemandangan yang tak jauh itu, pikirannya mengembara sesaat.
__ADS_1
Yuta tak ingat kalau ia harus berkonsentrasi pada pekerjaannya sampai tatapan Alio tertuju padanya. Kemudian, Yuta memaksa dirinya untuk tetap fokus kembali.
Olivia tak menyangka akan bertemu dengan Alio di sini.
Apalagi, jarak mereka satu sama lain hanya sejauh 20 meter.
Jika Olivia tak salah, Yuta bahkan ada di samping Alio.
Lucas memeluk Olivia dari belakang, jadi dada pria itu sangat dekat dengan punggung Olivia.
Olivia fokus belajar golf, jadi menurutnya tak ada masalah.
Namun, sekarang entah bagaimana Olivia merasa bersalah.
Terutama saat Olivia secara tak sengaja bertemu dengan mata Alio yang dingin dan jantungnya berdetak lebih cepat.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~