
"Saya mengerti," ucap Yuta sambil menatap Olivia dengan khawatir, ia takut wanita itu akan marah.
Olivia mengencangkan maskernya. "Dokter, kalau begitu … dalam kasus saya, apakah ada kemungkinan besar tertular virus?" tanyanya dengan suara lembut.
"Iya mungkin saja, tapi sekarang hasilnya belum keluar, tidak ada yang bisa mengatakan itu dengan pasti," jawab Dokter.
Mendengar itu, hati Olivia menjadi dingin dan air mata menumpuk di pelupuk matanya.
"Aku akan menelepon," ucap Olivia berbicara kepada Yuta dengan suara pelan, lalu bangkit dan melangkah keluar dari ruang konsultasi.
Tatapan khawatir Yuta mengikuti setiap langkah wanita itu.
...—oOo—...
Pertama, Olivia menelepon Kediaman Presiden dan meminta Sebas untuk menjawab telepon.
"Nyonya, Olivia?"
"Kepala pelayan, tolong ... sterilkan seluruh mansion. Terutama di kamar tuan muda dan Pak Presiden, jangan lewatkan setiap sudut!" ucap Olivia dengan suara pelan.
"Ada apa, Nyonya?" tanya Sebas khawatir.
Olivia takut kalau Sebas akan memberi tahu Alio dan Olvi, jadi ia hanya menjawab. "Tolong lakukan saja apa yang saya minta, ingat jangan lewatkan setiap sudut! Saya harus menelpon orang lain, saya akan tutup sekarang."
__ADS_1
Kemudian Olivia menutup telepon tanpa menunggu Sebas menjawab.
Olivia merenung sejenak, kemudian membuka nomor kontak dan memusatkan perhatiannya pada 'Suami Masa Depan'.
Wanita itu benar-benar khawatir dengan Alio, akhirnya … Olivia memutuskan untuk menelpon nomor itu.
Bahkan, Olivia tak berharap kalau Alio akan menjawabnya, karena pria itu selalu sibuk.
Tapi…
Kali ini, setelah telepon berdering tiga kali, Alio menjawab telepon.
Alio tak memulai pembicaraan, tapi hanya mendengarkan nafas wanita itu datang dari seberang telpon.
Olivia juga mendengarkan dengan tenang dan matanya menjadi berkaca-kaca tanpa alasan.
Akhirnya, Alio berbicara terlebih dulu. Pria itu selalu berhati-hati, jadi ia khawatir saat mendengar suara nafas berat Olivia.
"Tidak ada," sahut Olivia cepat, ia hanya ingin mendengar suara Alio dan mengetahui kalau segala sesuatu tentang pria itu baik-baik saja.
"Tidak ada apa-apa?" tanya Alio curiga.
"Hmm," jawab Olivia mengangguk. "Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu memiliki gejala demam, seperti merasa pusing?" wanita itu bertanya-tanya.
__ADS_1
Alio akhirnya mengerti niat Olivia menelponnya sekarang ini.
Pria itu berdiri di lantai atas istana putih Presiden, menghadap negaranya dan mendengarkan suara lembut dan perhatian Olivia, ia merasa semuanya sempurna.
"Kau mengkhawatirkanku, kan?" tanya Alio pada wanita itu.
"Iya, benar," jawab Olivia langsung mengakuinya tanpa diduga. Selain itu, wanita itu melanjutkan dengan suara serius. "Aku selalu mengkhawatirkan kamu sepanjang waktu."
Tiba-tiba Alio merasa kalau pemandangan musim gugur di luar jendela tampak sangat indah sekarang.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," balas Alio dengan suara lembut. "Kau harus tetap sehat juga, mengerti?"
Olivia tersenyum, sementara air mata mengalir dari matanya. "Hmm, kita berdua akan baik-baik saja."
Alio sangat sibuk saat Arnold mengetuk pintu untuk mengingatkan pria itu tentang jadwal selanjutnya.
Olivia mendengarnya. "Kalau begitu ... Aku tidak akan mengganggumu lagi, kamu pasti sangat sibuk sekarang," ucapnya dengan bijaksana.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~— Bersambung —
Thankyou so much and see you next chapter~