
Setelah Olivia selesai mengatakan itu, suara Arnold datang dari luar pintu. "Tuan muda kedua, bisakah kamu menjauh sebentar?"
Tuan muda kedua?
Mungkinkah…
"Kenapa aku tidak boleh memakai toiletnya sekarang?"
Seperti yang diduga, Alio dan Olivia mendengar suara arogan Lucas datang dari luar.
"Pak Presiden sekarang ada di dalam toilet, tolong tuan muda kedua pergi ke toilet yang lain." Arnold mencoba mengusir Lucas.
"Bagaimana jika aku tetap bersikeras ingin memakai toilet yang ini?" Lucas agak menantang.
"Pak Presiden … ada orang lain diluar sana." Olivia memperingatkan dengan suara pelan, ia takut Lucas akan masuk ke toilet ini.
Jika Lucas melihat keadaan yang memalukan ini, Olivia lebih baik mati.
"Jika pria itu tahu kita sedang melakukan ini di dalam sini, tebak ... apakah pria itu masih menginginkanmu?" Alio bertaruh dan mengangkat kepalanya dari leher Olivia tanpa ekspresi.
Setelah ciuman ini, kulit Olivia berubah merah muda seperti bunga sakura yang mekar di musim semi.
Olivia mengerang sambil mencengkram kerah bajunya sendiri dan dengan marah menutupi dadanya dari mata Alio.
Pada saat yang sama, Olivia memelototi Alio.
__ADS_1
Pria yang sangat aku benci!
"Tuan muda kedua, Anda sebaiknya pergi ke toilet di sebelah, Pak Presiden tidak suka diganggu." Arnold membujuk Lucas dengan sabar diluar.
Sementara tuan muda kedua ini, yang baru saja kembali dari luar negeri, tak menunjukkan rasa takut kepada siapapun.
Namun, Lucas tahu kalau ia tak bisa membuat Pak Presiden marah dan kesal, meskipun ia masih kecewa dengan kegagalan saudaranya dalam pemilihan.
Yang kalah akhirnya tetap kalah, Lucas tak bisa melawan Alio Wilson di depan umum.
Lucas melirik pintu toilet yang tertutup dan akhirnya berjalan menuju toilet yang lain.
Tapi…
...—oOo—...
Sebenarnya, Alio tak ingin membawa Olivia masuk ke toilet pria.
Alio hanya ingin memberi Olivia pelajaran, meskipun ia sudah kelewatan saat melakukannya.
Bagaimanapun, waktu dan tempat ini tak pantas bagi Alio untuk melakukan ini.
"Olivia, ingatlah ini, ini adalah pelecehan!" Alio tiba-tiba berhenti dan menjauh dari tubuh Olivia.
Mata dingin pria itu tetap tak bisa di tebak.
__ADS_1
Alio membersihkan dirinya dengan santai, setelah beberapa saat, ia kembali menjadi Presiden yang bermartabat dan elegan.
Dibandingkan dengan Alio, Olivia sangat kacau dan berantakan. Di bawah gaunnya, kakinya terlalu lemah untuk berdiri tegak.
Olivia berusaha sangat keras untuk mengangkat dirinya dengan tangan di atas meja, bahkan jari-jarinya hampir tenggelam disana.
"Lain kali, kau akan menanggung resikonya jika kau berani membuatku marah lagi!" Alio menatap Olivia dengan penuh arti, lalu menarik pintu dan berjalan keluar dengan langkah berat.
Pintu ditutup dan pria itu akhirnya pergi, Olivia tak bisa menahan diri lagi, tubuhnya yang lemah perlahan tersungkur ke lantai.
Olivia hanya bisa merasakan kalau sesuatu yang dingin membungkus dirinya dan membekukan hatinya. Lalu, tanpa sadar air mata keluhan keluar membasahi matanya dan dadanya menjadi sangat sesak.
Apakah yang aku lakukan salah? Bagaimana aku bisa memprovokasi Alio dan membuat pria itu sangat marah?
.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1