Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 34


__ADS_3

"Selamat malam, Pak presiden." Olivia menyapa Alio dan sedikit menundukkan kepalanya saat pria itu menghampirinya.


Alio mengernyitkan alisnya. "Ada apa ini?" tanyanya dengan suara dingin sambil memegang dagu Olivia dan sedikit mengangkat wajah wanita itu.


Julia bahkan tak bisa berkata-kata saat melihat Pak Presiden mendatangi Olivia dan menanyakan keadaannya. 


"Pak Presiden, sedang apa Anda disini?" tanya Julia sopan.


Tapi, Alio mengabaikan Julia dan hanya menatap Olivia dengan ekspresi dingin yang sulit dibaca.


Meskipun Olivia ingin protes, ia tak berani bergerak sedikitpun! 


Alio melihat leher Olivia, lalu turun ke belahan dada wanita itu.


Saat ini, Olivia benar-benar tak mengerti apa yang ada di pikiran pria itu.


Mereka berdua berdiri sangat dekat dan jemari hangat Alio menyentuh wajah Olivia.


Karena itu … Olivia merasa sangat gugup dan jantungnya pun berdebar kencang.


Olivia merasa tak nyaman, karena saat ini mereka berdua ditatap oleh banyak orang.


Kemudian, Olivia menyadari kemana arah pandangan Alio tertuju!


Kemana mata dia melihat? Apakah dia melihat ke dadaku? Batin Olivia merasa malu.

__ADS_1


"Pak … Presiden?" ucap Olivia pelan dengan nada canggung dan memecahkan kesunyian diantara mereka berdua.


Pada saat itu, Alio melepaskan tangannya dari Olivia, kemudian beralih menatap Arnold. "Cari dokter Lay dan minta dia menemuiku sekarang!"


"Baik, Pak." Arnold menjawab setelah mendengar perintah dari Alio lalu ia segera pergi dari sisi pria itu.


Saat melihat itu, Julia mengepalkan tangannya dan menatap Olivia dengan tatapan benci.


Olivia terdiam cukup lama, tapi saat Alio benar-benar pergi dan menghilang dari pandangannya, ia menyentuh wajahnya sendiri seolah-olah masih merasakan jemari hangat pria itu.


Jadi, dia melihat ke dadaku karena merah? Kalau begitu … ternyata pria itu tidak terlalu buruk.


Julia akhirnya sadar dari keterkejutannya setelah melihat apa yang baru saja terjadi, wanita itu bahkan tak bisa menahan tawa dan berbicara dengan nada sarkas. "Lihatlah wajahmu yang seperti merindukan belaian cinta itu!"


"Hah? Buat apa? Aku sudah punya Kak Yuta!" sahut Julia bangga.


"Kau jangan salah paham! Pak Presiden itu baik kepada semua rakyatnya. Dan untuk wanita yang sudah memiliki anak sepertimu … kau sangat tidak pantas bersanding dengan Pak Presiden, sebagaimana kau tidak pantas untuk Kak Yuta. Jadi, jangan kebanyakan mimpi!" lanjut Julia dengan wajah angkuh.


Olivia tersenyum. "Oh ya? Pak Presiden memang baik kepada rakyatnya, tapi meskipun dia baik … kenapa dia mengabaikanmu dan memperlakukanmu seperti tidak ada?"


Julia emosi lagi karena ia sendiri tak bisa membantah ucapan Olivia. Hingga, beberapa orang datang menghampiri mereka berdua. 


"Permisi, diantara kalian berdua siapa Nona yang bermarga Stein?"


"Kita berdua!" jawab Julia dengan nada jutek.

__ADS_1


Orang-orang itu saling memandang dengan wajah bingung. 


"Emm … itu sepertinya Nona … Olivia Stein?"


Mendengar itu, Julia hanya diam saja dan tak mengatakan apa-apa.


Pandangan mereka pun tertuju pada Olivia, lalu tersenyum dengan hormat pada wanita itu. 


"Nona Olivia, silahkan ikut kami! Presiden memerintahkan kami untuk mengobati luka Anda."


Salah satu dari mereka berbicara dengan sangat ramah lalu membawa Olivia pergi bersama mereka.


Sementara Julia, ia tetap diam terpaku di tempat sambil menggigit bibir bawahnya dengan perasaan marah.


Kenapa Olivia … bisa sangat beruntung!?


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2