Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 235


__ADS_3

Ada sedikit kesedihan dan sentuhan menggoda dalam suara Alio. 


Olivia merasa daun telinganya terbakar dan detak jantungnya jadi lebih cepat, wanita itu berdiri diam di sana sampai Alio mengambil selimut dan melangkah keluar.


Olivia kembali tersadar dari pikirannya, ia refleks menyentuh daun telinganya. 


Itu terasa panas.


Sekitar satu jam kemudian, Olvi diberikan suntikan, Olivia memeriksa putranya dengan hati-hati dan kemudian pergi tidur setelah memastikan keadaan putranya baik-baik saja.


Olvi membuka matanya yang masih mengantuk, setelah mengetahui disampingnya adalah Mamanya, anak itu bergerak mendekat. 


Olivia menghela nafas dan memeluk putranya dengan erat.


Untungnya tak ada masalah yang terjadi di malam itu.


...—oOo—...


Ketika Olivia bangun, di luar sudah terang. 


Sekarang jam tujuh lewat, Olivia hanya tidur selama 3 jam.


Olivia bangun dan membuka pintu dengan pelan, ia melihat ke ruangan tempat Alio tidur. 


Olivia khawatir pria itu akan ketinggalan pesawat, tapi saat ia pergi ke ruangan itu ia merasa dirinya terlalu khawatir.


Alio sudah pergi, tak ada seorang pun di sana, pria itu tak membereskan tempat tidurnya sebelum pergi.


Olivia tak tahu kapan Alio pergi dan pria itu bahkan tak memberitahunya.

__ADS_1


Melihat tempat tidur yang kosong, entah kenapa Olivia merasakan kesepian dan ada juga rasa hampa di dalam hatinya.


Tiba-tiba, Olivia merasa seperti orang bodoh yang merasa sedih. 


Semuanya sia-sia. 


Olivia menggelengkan kepalanya dan mulai merapikan tempat tidur, berusaha untuk tak memikirkan Alio.


"Kau sudah bangun?"


Tiba-tiba terdengar suara berat khas Alio yang memecah keheningan dan Olivia terkejut saat ia melihat ke arah pintu dan ia mendapati Alio berdiri di sana.


Pria itu belum pergi!


Sepertinya Alio ada di kamar mandi barusan, pria itu sudah berpakaian rapi dibandingkan dengan piyama malam tadi. 


Dasi pemberian Olivia tergantung di leher pria itu.


Alio memeriksa arlojinya dan menjawab. "Hm, aku harus pergi sekarang, Arnold sudah menunggu di luar selama satu jam. "


Alio berjalan ke arah Olivia dan wanita itu menatapnya lalu dasi yang menggantung di leher pria itu. 


Olivia mengerti apa yang Alio maksud dan tak menolak, sementara Olivia mengikat dasi pria itu, Alio terus menatapnya yang membuat Olivia mengingat kejadian kemarin dan perpustakaan membuat wajahnya memerah.


Arnold hendak memanggil kakaknya, tapi ia melihat pemandangan di ruangan itu dan langsung keluar lagi.


Alio harus pergi sekarang, waktunya hampir habis, saat Olivia selesai memasang dasi pria itu, Alio pergi ke ruangan Olvi dan mencium putranya yang sedang tidur itu.


Melihat beberapa mobil melaju meninggalkan rumah sakit, Olivia kembali ke tempat tidur dan mencoba tidur. 

__ADS_1


Olvi setengah sadar sekarang. "Mama, dimana Papa?"


"Papamu sibuk, banyak hal yang harus Papamu selesaikan, dia baru saja pergi."


"Oh, kenapa Papa tidak membangunkanku?"


"Papamu menciummu sebelum pergi." Olivia mencium kening putranya. "Tidurlah lagi, saat kamu bangun, Dokter Lay akan memeriksamu lagi. Jika kamu baik-baik saja, Mama akan membawamu pulang."


"Oke." Olvi menutup matanya dan tidur.


...—oOo—...


Di dalam pesawat pribadi Presiden.


Setelah Alio merapikan dasinya, pria itu kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Meskipun ada masalah yang terjadi tadi malam, Alio merasa baik-baik saja saat melihat dasinya.


Warna yang Olivia pilih cocok dengan setelannya hari ini.


Alio merasa sangat puas dan senang.


"Pak Presiden, ini teh untuk Anda."


Seorang pramugari datang dan menyerahkan secangkir teh.


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2