Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 224


__ADS_3

Alio turun ke lantai bawah sementara Olivia sibuk memasak di dapur.


Pria itu sedang berbicara dengan Arnold. "Kak, bagaimana dengan Nona Angela…"


Tiba-tiba Alio memperhatikan tas hadiah berisi di atas meja, jadi ia tak memperhatikan apa yang Arnold coba katakan.


Alio berjalan mendekati hadiah itu dan melihat dasi di dalamnya.


Pria itu terkejut.


Tanpa sadar Alio melihat sekeliling, Sebas tahu apa yang pria itu cari, jadi ia menunjuk ke dapur.


Alio berjalan ke dapur sambil berkata pada Arnold. "Kita akan membicarakannya besok, kau bisa pergi sekarang."


"Baik, kak." Arnold mengangguk sambil melihat Kakaknya sampai menghilang dari pandangannya.


Arnold khawatir kalau Kakaknya benar-benar jatuh cinta pada Olivia.


Tapi cinta benar-benar berbeda dari pernikahan, mungkin Alio akan kehilangan banyak hal, jika terus seperti ini.


"Mama, lihat! Aku sudah menghabiskan nasinya!"


Alio mendengar suara anak itu sebelum ia memasuki dapur.


"Pintar, tunggu Mama sebentar lagi di meja makan, Mama akan segera membawakan ayam kesukaanmu."

__ADS_1


Suara Olivia terdengar lembut tapi entah kenapa terdengar agak sedih.


"Nggak mau, aku akan menunggu di sini. Papa sangat jahat, aku akan melindungi Mama jika Papa mengusir Mama atau memarahi Mama lagi."


"..." Alio berpikir anak itu cukup pandai membicarakannya.


Alio berjalan dengan tatapan dingin.


Olvi marah pada Papanya dan ia akhirnya dapat kesempatan untuk mengeluh.


Tapi pada saat ini, kerahnya ditarik ke belakang oleh seseorang.


"Siapa itu? Siapa!" Olvi terkejut dan meronta-ronta saat tubuhnya terangkat ke udara.


Anak itu menoleh dan melihat wajah Alio, lalu Olivi hanya bisa tersenyum canggung.


Olvi di seret ke meja makan oleh Alio, kemudian pria itu kembali ke dapur sendiri tanpa putranya.


Para chef dan maid juga tak ada disini, sekarang hanya ada mereka berdua di dapur.


Olivia mencoba fokus pada masakannya dan mengabaikan Alio.


"Kapan kau pulang?" tanya Alio.


"Baru saja," jawab Olivia. "Sopir bilang Olvi tidak mau makan jadi aku datang menemuinya, aku akan pergi ketika anak itu selesai makan malam dan tidur."

__ADS_1


Alio tak menyukai kalimat terakhir yang Olivia ucapkan, pria itu bersandar di kulkas dengan tangan yang menganggur di saku celananya. "Bagaimana jika anak itu masih tidak mau makan besok?"


"Kalau begitu jangan menghukumnya! Antarkan dia padaku, aku bisa mengurusnya. "


"Tidak!" Alio menolak. "Itu tidak bisa di ubah, anak itu tidak boleh keluar rumah sampai dia tahu kesalahannya dan memperbaikinya. Jika aku menarik kembali apa yang aku katakan, tidak ada otoritas."


Olivia berbalik setelah selesai memasak. "Olvi tidak melakukan kesalahan apapun, kenapa kau menghukumnya? Dia masih anak-anak, tentu saja dia merindukanku karena aku ibunya. Aku melahirkannya dan membesarkannya, kenapa Anda memisahkan kami? Ini terlalu kejam untuk dia dan aku!"


Emosi Olivia semakin tak terkendali dan matanya menjadi lembab.


Alio tak mengira Olivia akan seperti ini, wanita itu mencoba menghindari tatapan Alio dan ingin keluar dari tempat ini setelah menyadari ia kehilangan kesabaran.


Tapi tiba-tiba ... Alio menarik Olivia ke dalam pelukannya.


Olivia merasa sangat tersakiti, mau tak mau ia kembali teringat dengan kartu undangan.


Pelukan itu mengenai bagian tersensitif di hatinya, Olivia tak ingin menahan air matanya lagi.


Alio tak suka melihat Olivia menangis, karena pria itu tak tahu harus berbuat apa. "Jangan menangis!"


"Kenapa kau selalu menyakiti Olvi dan aku? Apakah kami terlihat sangat tidak baik untukmu?" tanya Olivia sambil menangis.


— Bersambung —


***

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~


__ADS_2