
Awalnya, Olivia mengira kalau IQ anaknya itu cukup untuk memahami hal-hal tersebut.
Namun, semakin bertambahnya usia ... pikiran Olvi jadi semakin dewasa dan mandiri—melebihi usianya yang masih anak-anak.
Olivia pun harus membiasakan dirinya dengan putranya dan mulai menerima kebiasaan aneh putranya itu menjadi sebuah kebiasaan.
Karena Olvi sangat mandiri, saat Olivia pergi bekerja, ia meninggalkan putranya itu sendirian di apartemen.
Meskipun tak begitu baik meninggalkan seorang anak kecil sendirian di apartemen tanpa pengawasan.
Olivia terpaksa melakukan itu karena keluarganya tak ada yang mau mengurus Olvi.
Selagi Olivia mencari pengasuh untuk Olvi, ia selalu berpesan dan melarang Olvi keluar dari apartemen karena alasan keamanan.
Makanya, Olivia selalu mengunci pintu ... tak lupa ia menyediakan banyak makanan dan mainan agar Olvi tak bosan.
Benar saja, Olvi selalu berkreativitas saat Olivia pulang bekerja. Ada saja mainan yang dibongkar dan di rakit oleh anak itu.
Untungnya, Olvi tak pernah protes dan ia selalu mematuhi perkataan Olivia.
"Olvi sayang, Mama ganti baju dulu lalu, ya? Kamu jangan kemana-mana karena habis Mama ganti baju kita akan jalan-jalan keluar dan makan bersama diluar," ucap Olivia berpesan pada putranya.
Lalu, Olivia membelai rambut Olvi dengan lembut sambil tersenyum hangat karena tak terasa kalau putranya sudah sebesar ini saja, padahal baru kemarin rasanya Olvi itu masih baby.
Olvi melambaikan tangannya yang kecil sambil memasang ekspresi tak peduli. "Oke, oke!" balasnya singkat dan mengusir Olivia karena merasa keseruannya menonton telah terganggu.
__ADS_1
Sedangkan Olivia, ia hanya tersenyum saat melihat tingkah laku putranya yang sedikit kurang ajar, seolah-olah ia sudah terbiasa dengan semua itu.
Meskipun begitu, sebagai seorang singel mom Olivia dapat merasakan kekurangannya dalam mendidik Olvi tanpa adanya peranan seorang ayah dalam hidup putranya.
Olivia tahu itu, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa. Selama ini, Olivia terus bertanya-tanya apakah ia sudah melakukan yang terbaik untuk putranya sebagai seorang ibu?
...-oOo-...
15 menit kemudian.
Setelah Olivia selesai mandi, ia memakai dress simpel berwarna pink.
Walaupun Olivia sudah menjadi ibu dari anak berusia 4 tahun, drees pink masih terlihat cocok untuknya.
Apa mungkin karena ia baru berusia 23 tahun?
Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dan melihat Olvi yang sudah tak ada lagi di ruang tamu.
"Olvi?" panggil Olivia setengah berteriak.
Tetapi ... tak ada sahutan dari anak itu!
"Olvi, ayo cepat sayang ... kita akan segera berangkat!" lanjut Olivia lalu membuka pintu kamar putranya.
Namun, Olivia tak menemukan putranya di dalam sana.
__ADS_1
"Tidak ada?" kaget Olivia.
Sekarang, hati Olivia tiba-tiba jadi sangat gelisah karena ia merasakan firasat yang buruk.
Kemudian, Olivia bergegas pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamar Olvi.
Namun ... nihil!
Anaknya itu juga tak ada di sana!
Olivia memaksakan dirinya untuk tetap tenang dan matanya tak lepas dari tempat dimana mungkin Olvi bersembunyi.
"Olvi, cepat keluar sekarang! Ini bukan waktunya bermain petak umpet! Kalau kamu tidak keluar sekarang juga, Mama akan marah!" seru Olivia berpura-pura marah dan meninggikan suaranya.
Biasanya Olvi akan langsung keluar saat Olivia berteriak seperti ini, tetapi sekarang—tak ada respon sama sekali dari anak itu.
Olivia pun sadar kalau Olvi tak ada di dalam apartemen.
Apakah hal yang Olivia takutkan telah terjadi? Kali ini, apa putranya ... diam-diam keluar dari apartemen tanpa sepengetahuannya!
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~