
"Hmm..."
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, Sebas melirik ke arah Alio terlebih dahulu lalu dibalas anggukan oleh Alio.
"Tuan muda, pria tampan dan juga gagah yang ada di hadapan Anda ini adalah Ayah Anda," jawab Sebas yang membuat Olvi semakin terkejut.
"Karena marga Ayah Anda ini adalah Wilson, otomatis Anda juga harus mengikutinya," lanjut Sebas lalu tersenyum simpul.
"Ayah?" tanya Olvi dengan ekspresi bingung. Anak itu mengamati pria yang duduk didepannya dan menyadari kalau wajah mereka memanglah mirip.
"Apakah Anda yakin, kalau Om sangar itu adalah Ayah saya?" Olvi sedikit tak yakin.
"Ya," timpal Alio pelan, tetapi semuanya terdengar jelas di telinga Olvi dan membuatnya langsung merinding.
"Hmm ... Ini aneh. Mama pernah bilang, kalau Ayah saya itu sudah meninggal karena kecelakaan mobil saat saya masih berada di dalam kandungan. Lalu, Om sangar ini siapa? Apakah Om hantu?"
Alio menyipitkan matanya lalu mengetukkan jarinya di sofa.
Bukankah ini adalah sebuah kejahatan besar karena telah menghina Presiden?
Seketika, suasana di antara mereka berubah menjadi mencekam.
__ADS_1
Wanita itu ... apa yang sudah dia ajarkan pada putraku!? batin Alio yang marah dan juga kesal.
Sebas langsung berkeringat dingin, hanya Olvi yang berani berbicara seperti itu kepada Presiden.
"Tu-Tuan muda ... kedepannya, tolong Anda jangan berbicara omong kosong seperti itu lagi."
"Omong kosong? Apa yang dikatakan Mama saya itu memang benar! Mama tidak akan berbohong pada saya! Saya ingin pulang sekarang juga! Tolong antarkan saya pulang dengan aman dan selamat!" tegas Olvi.
Setelah Olvi selesai berbicara, ia pun duduk kembali di sofa lalu menyilangkan tangan dan juga kaki kecilnya secara bersamaan dengan ekspresi marah.
Namun, tak lama kemudian ... Olvi tiba-tiba terjatuh dari sofa.
Alio pun menatap putranya dengan tatapan tajam sambil berpikir.
Putranya sekarang berusia 4 tahun, Olvi tumbuh besar dengan sangat baik dan itu semua berkat wanita itu!
"Sebas, bawa dia ke atas!" titah Alio dan Sebas pun langsung melaksanakan tugasnya, meletakkan nampan lalu menggendong Olvi.
"Apa!? Saya hanya bilang akan memikirkannya, saya tidak pernah bilang setuju untuk tinggal dirumah ini!" protes Olvi.
Tak peduli berapa kali Olvi memberontak, Sebas tak melepaskannya dan tetap membawanya ke atas.
__ADS_1
"Om jahat! Kalian semua orang jahat! Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku benci kalian!"
Alio mendengar teriakan anak itu di dalam kamar yang terkunci, sedangkan Alio sendiri duduk santai di sofa sambil menikmati teh kesukaannya.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan selanjutnya?" tanya Sebas yang sudah kembali lagi ke sisi Alio.
Alio melirik ke arah Sebas lalu ia berkata dengan suara dingin. "Ajarkan anak itu tata krama keluarga Wilson dari yang paling dasar!" titahnya.
"Baik," balas Sebas menerima perintah Alio. "Lalu ... bagaimana dengan ibunya Tuan muda, Nona Olivia Stein? Tuan muda terus merengek meminta bertemu dengan ibunya."
"Aku akan mengurus sisanya."
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1