Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 167


__ADS_3

Seseorang di seberang telepon tiba-tiba menutup telepon tanpa mendengarkan penjelasan Julia yang ingin memberikan penjelasan lebih lanjut. Merasa yakin bahwa ada seseorang di balik kejadian ini, Julia memutuskan untuk menelpon kembali dengan hati-hati untuk mencari tahu penyebabnya.


Namun, ketika ditanya, orang di seberang telepon hanya menghela nafas dan berkata. "Julia, jangan marah. Aku tidak punya pilihan. Seseorang dengan posisi yang lebih tinggi memintaku untuk melakukannya. Apakah kamu mungkin baru-baru ini telah menyinggung seseorang?"


Julia menjadi terkejut dan terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan tersebut. Dia berpikir tentang orang yang memiliki kekuasaan untuk mengendalikan pekerjaannya dengan mudah, dan mempertanyakan apakah dia telah secara tidak sengaja menyakiti seseorang belakangan ini.


Pak Presiden.


Apakah Presiden akan melakukan sesuatu seperti ini untuk Olivia?


Semakin Julia memikirkannya, semakin dia merasa itu sangat tak masuk akal. Dia tak percaya kalau Olivia begitu menarik, jadi Julia menelepon Yuta untuk memastikan kebenarannya.


Setelah Yuta memberitahu Julia bahwa Pak Presiden yang menyuruhnya untuk minta maaf, Julia menjadi sangat marah sampai-sampai dia ingin menghancurkan handphonenya.


Julia keluar dengan terburu-buru dan Jesi datang dengan semangat. "Julia, coba lihat sepatu hak tinggi yang baru Mama beli untukmu. Kamu bisa coba dulu,"


Tapi Julia menolak. "Nggak perlu! Mereka nggak butuh aku lagi! Mereka udah ganti aku!"


Jesi kaget. "Kok gitu? Udah pesan tiket kan, kenapa tiba-tiba dibatalkan?"

__ADS_1


"Terima kasih pada si ****** Olivia!" ucap Julia dengan nada kesal.


Jesi tak mengerti. "Maksud kamu siapa? Apa hubungannya dengan dia?"


Saat Julia teringat kembali semua yang terjadi dalam dua hari terakhir, dia jadi menangis.


"Dia berhubungan dengan Pak Presiden dan merusak pekerjaanku! Yuta bilang padaku bahwa Pak Presiden bilang kalo aku nggak minta maaf sama Olivia, akibatnya akan aku tanggung sendiri! Ini baru awal, bisa-bisa aku kehilangan kerjaan kalau ga minta maaf. Yang lebih parah lagi, aku nggak boleh jadi model lagi di masa depan! Karir modelku benar-benar tamat!"


Jesi sangat terkejut. "Seriusan?! Pak Presiden... Dia beneran belain Olivia sampai kayak gitu? Kamu ngapain sama Olivia, sih?"


"Aku mau cari Olivia dulu dan tanya langsung sama dia!" ucap Julia sambil meninggalkan Jesi dengan rasa kesal.


Jesi bertanya. "Kamu tahu gak di mana dia bisa ditemuin?"


Kediaman presiden?


Jesi terkejut lagi. Olivia … Tinggal di kediaman Presiden ? Oh my god! Apakah wanita itu suatu hari akan menjadi istri Presiden?


...—oOo—...

__ADS_1


"Dr. Lay, gimana kondisi Pak Presiden?" tanya Olivia ke dokter Lay setelah selesai memeriksa Alio.


"Nona Olivia, untuk saat ini, lebih baik Anda menjaga jarak dari Pak Presiden. Kalian harus dikarantina satu sama lain atau bisa saling mempengaruhi," jawab Dokter Lay.


Olivia menatap Alio dan mengangguk. "Baik deh, saya bakal pergi sekarang."


Wajah Alio berubah cemberut, kapan wanita itu bersikap sangat patuh?


"Selain itu..." ucap dokter Lay, berhenti sejenak, dan mengeluarkan suara hemm sebelum melanjutkan, "Karena kalian di karantina, no more kissing! Udah ngerti kan kalian berdua?"


Olivia langsung malu sampai wajahnya merah.


Alio langsung meraih bantal dan melemparnya ke arah dokter Lay. "Lay, kau sangat menyebalkan!"


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2