
"Mama akan terlambat, hari ini mama akan sarapan dengan orang lain." Olivia memasuki ruang makan dan mencium kening putranya. "Selamat tinggal, jangan nakal di rumah, ya!"
Usai mengatakan kalimat itu, Olivia tak melihat ke arah Alio yang duduk di seberangnya dan bergegas pergi membawa tas.
Melihat punggung Olivia yang perlahan menghilang, Olvi berteriak pada ayahnya. "Mama pasti pergi berkencan! Papa, apakah Papa melihat kalau Mama berpakaian berbeda hari ini?"
Bahkan, jika anak laki-laki itu tak menyebutkan hal itu, Alio juga menyadarinya.
Di hari yang sangat dingin, wanita itu benar-benar mengenakan rok dan pakaian yang agak tipis dari biasanya. Bukankah dia akan masuk angin?
Alio tiba-tiba teringat sesuatu, meletakkan peralatan makannya dan berbalik ke arah Sebas. "Minta Arnold masuk!"
Sebas mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
Setelah beberapa saat menunggu, Arnold bergegas masuk dari luar.
"Ada apa, Kak?"
"Bagaimana jadwal pagi ini?" tanya Alio.
"Kakak pagi ini dijadwalkan bermain golf bersama Tuan Rei dari Inggris di Lapangan Gomes, tetapi luka kakak..."
Berbicara tentang ini, Arnold memelankan suaranya dan melihat dada Kakaknya.
__ADS_1
"Tidak perlu mengubah jadwal, telepon Tuan Rei untuk bertemu disana tepat waktu!"
"Tapi Kak, kita tidak punya waktu untuk memeriksa dan memastikan kalau lapangan golf itu aman." Arnold agak tak setuju.
"Tidak perlu melakukan itu. Kita akan tetap bertemu di lapangan Gomes. Tingkatkan saja keamanannya!"
"Baik, Kak." Arnold tak bisa berkomentar apapun.
Alio Wilson sangat tegas dan keras kepala, Arnold pamit undur diri dan memberitahu orang lain untuk melakukan persiapan dengan tergesa-gesa, kemudian meminta seseorang untuk pergi ke lapangan golf Gomes untuk mengerahkan personel keamanan.
...—oOo—...
Olivia tiba di Lapangan Golf Gomes. Ketika staf mendengar namanya, mereka segera membawanya masuk.
Wanita itu menyerahkan tas makanan yang dibawanya kepada staf untuk disimpan.
Tuan muda kedua?
Sekarang, Olivia sangat yakin kalau Neneknya benar-benar kacau. 'Tuan muda kedua' yang disapa oleh orang lain dengan hormat, tak mungkin hanya seorang guru sekolah menengah biasa.
Restoran ini sangat mewah dan tak banyak orang yang datang kesini, jadi tampak sepi.
Lucas sedang duduk di tengah restoran, mengenakan pakaian yang sederhana, muda dan menarik. Namun, Olivia yakin pasti yang dipakai pria itu dari atas sampai bawah adalah barang branded!
__ADS_1
Meskipun Olivia belum pernah datang ke sini, ia sering mendengar tentang lapangan golf Gomes karena ia sudah lumayan lama bekerja di Kementerian Luar Negeri.
Untuk tempat seperti ini, orang-orang yang tak memiliki uang tak diizinkan masuk.
Bahkan pejabat tinggi, seperti ayahnya, tak memenuhi syarat.
Berada di sini adalah simbol kekayaan dan status tinggi.
"Olivia, sini!" Lucas juga melihat Olivia.
Pria itu meletakkan peralatan makan di tangannya dan melambai pada wanita itu dengan penuh semangat.
Olivia berjalan perlahan.
Seorang pelayan restoran sudah menarik kursi di samping Lucas untuk Olivia dan wanita itu duduk sesuai itu.
"Selamat pagi," sapa Olivia.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~