
Alio menganggukkan kepalanya, ia melihat ke tempat tidur Olivia, kemuraman di wajahnya akhirnya digantikan oleh rasa kasihan.
Olivia terbaring di tempat tidur dengan wajah memar.
Olvi berbaring di samping Olivia dengan mata yang basah, anak itu entah kenapa terus meniup wajah Olivia seolah-olah itu bisa mengurangi rasa sakit mamanya.
Olvi diajarkan oleh Alio untuk dak menangis di situasi apapun! Karena dia adalah, seorang laki-laki. Tapi, tak untuk sekarang.
Alio tersentuh, matanya terus menatap ibu dan anak itu, ia melihat ikatan diantara mereka, mereka terlihat begitu penuh cinta dan kasih sayang, tak heran kalau Olivia rela berkorban untuk anak itu, terlepas dari penghinaan yang Alio berikan pada Olivia.
Setelah beberapa saat, Alio menoleh untuk melihat dokter Lay, sulit bagi Alio untuk mengatakan itu. "Apa dia...?"
Alio tiba-tiba berhenti disitu.
Lay Hason menatap Alio, detik berikutnya ia langsung bisa memahami maksud Alio.
"Tidak perlu, aku sudah mengirim perawatan untuk memeriksanya dia aman dan sehat, dia akan segera pulih"
Alio terlihat bingung. "Kalau begitu..."
Dokter Lay langsung tahu lagi apa yang ingin dia tanyakan. "Saat para maid membantunya mandi, aku akan meminta perawat wanita masuk untuk memeriksa perkembangan kesehatan Nona Olivia."
Dengan penjelasan ini, Alio merasa hatinya mulai tenang.
Pada saat ini, Alio hampir tak bisa mengendalikan dirinya.
Kejadian 9 tahun yang lalu, tiba-tiba terlintas di benaknya.
Alio tak ingin hal itu terulang kembali, dan juga masa kelamnya.
__ADS_1
Pada saat ini, Arnold mengetuk pintu dan kemudian segera masuk.
"Kakak."
Arnold menatap Kakaknya, tatapan ini berarti ada hal yang sangat penting yang ingin Arnold sampaikan.
Alio menatap dokter Lay, lalu berkata. "Tolong rawat dan jaga dia, aku akan segera kembali."
Setelah meninggalkan perintah, Alio langsung pergi bersama Arnold.
Lay Hason mengangguk dan ia menundukkan kepalanya tanda hormat sampai punggung Alio menghilang dari balik pintu.
...—oOo—...
Ruang kerja Alio.
Arnold berkata. "Kak, sebelum membunuh para sampah itu. Aku dan tim black wolf mengintrogasi mereka. Tapi, mereka tidak mau mengatakan apapun tentang siapa dalang di balik semua ini. Dan memilih mati, dengan meminum racun bunuh diri. Sebelum itu mereka terus mengatakan itu adalah rencana mereka sendiri. Tapi—"
Alio menyambung. "Itu pasti ada hubungannya dengan Angela Scarlett?"
Itu pertanyaan tapi juga pernyataan.
"Masalahnya, kita tidak mempunyai bukti kuat jika keluarga Scarlett terlibat," lanjut Arnold.
__ADS_1
Tatapan dingin Alio menatap tajam keluar jendela dan kegelapan membuat pria itu semakin misterius.
Bahkan Arnold sendiri tak bisa mengerti apa yang di pikirkan kakaknya. Arnold tahu, pasti Kakanya sudah memikirkan rencananya.
"Mustahil, jika tidak ada keterlibatan keluarga Scarlett kali ini," ucap Alio dingin lalu sedikit tersenyum.
Arnold merasa takut saat melihat sikap Alio. Dia cepat-cepat menjelaskan apa yang dia tahu lagi.
"Setelah penyelidikan menyeluruh, keluarga Scarlett dinyatakan terlibat, tapi sekarang, kita harus berhati-hati dengan Hansel Taylor. Dia mungkin sedang menonton pertunjukan ini dengan duduk manis di kantornya, keluarga Taylor sedang menunggu peluang, mereka tidak akan tinggal diam. Cepat atau lambat, iblis itu akan merajalela! Bagaimana tindakan kita selanjutnya jika itu terjadi, Kak?"
"Menurutmu bagaimana!? Ahli strategi Arnold Wilson? Kau sendiri lebih tahu jawabannya!"
"..." Arnold terdiam, setiap Alio menambahkan kata ahli strategi dalam kalimatnya untuknya, berarti kakaknya sangat mengandalkannya dalam kasus ini.
Entah kenapa Arnold merasa terharu.
"Satu pelaku yang tersisa kirim dia kepada keluarga Scarlett dan minta Wakil Presiden Scarlett untuk menanganinya!"
"Baik," jawab Arnold cepat, ia sedikit menghela nafas.
Dengan ini, pembahasan masalah ini dapat dikatakan selesai.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~