
Dengan tatapan yang dalam, Alio menatapnya. "Apakah kau khawatir denganku?"
Suara pria itu juga lembut, meskipun serak, tapi terdengar cukup seksi.
Sementara mata Alio dipenuhi dengan kehangatan yang membuat jantung Olivia berdetak lebih kencang.
Olivia membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu. Namun…
"Tentu saja!"
Dua kata itu hampir keluar dari bibir Olivia. Tapi, ia tiba-tiba menyadari sesuatu dan kata awal "Tentu" tersangkut di tenggorokannya.
Alio menunggu cukup lama, namun Olivia masih tak menjawab, pria itu mengangkat alisnya.
Tak lama kemudian, Olivia mulai berkata dengan formal. "Saya benar-benar khawatir pada Anda. Di antara para Presiden sebelumnya, Anda adalah yang paling populer di negara kita. Semua orang peduli pada Anda, kemarin … saya dan rekan-rekan saya mengetahui dari berita kalau Anda mungkin terluka dan kami semua mengkhawatirkan Anda."
Alio menyipitkan matanya dan bertanya dengan dingin. "Tidak ada perasaan lain?"
Olivia pura-pura tak mengerti apa yang Alio maksud dan langsung mengubah topik pembicaraan dengan acuh tak acuh. "Sekarang Anda sangat lemah, jangan mengobrol dengan saya lagi. Makan bubur ini selagi hangat! Rakyat Anda tidak akan terlalu khawatir jika Anda lekas sembuh."
Saat berbicara, Olivia mengangkat sendok dengan bubur dan memasukkannya ke dalam mulut Alio.
__ADS_1
Alio tiba-tiba merasa sedikit bosan, pria itu tak mengatakan apa-apa dan hanya makan bubur dengan sikap dingin.
Suasana tegang ini menghilang.
Tapi sekarang, segudang pertanyaan memenuhi pikiran Olivia. Apakah itu dirinya sendiri yang mengkhawatirkan Alio? Atau sebagai seorang rakyat sipil biasa yang mengkhawatirkan Pak Presiden? Olivia tak tahu jawaban sebenarnya.
...—oOo—...
Pada sore hari, Dr. Lay datang untuk mengganti balutan perban baru untuk luka Alio.
Alio tertidur di tempat tidur.
"Pak Presiden mengalami demam tadi malam dan untungnya saat subuh demamnya sudah turun. Dia juga memiliki nafsu makan yang buruk, kemarin hanya makan semangkuk bubur."
"Pak Presiden bangun hanya sebentar hari ini dan kemudian dia tertidur lagi. Dokter Lay, apakah dia baik-baik saja? "
"Yah, ini normal. Bagaimanapun, dia terluka parah." Dokter Lay melirik Olivia. "Aku akan mengganti perban baru untuk lukanya, bisakah kamu membantuku?"
"Tentu."
Olivia menuruti instruksi dokter Lay dan bersiap untuk memotong kain kasa di dada Alio dengan gunting.
__ADS_1
Namun, Olivia bahkan belum mulai, tiba-tiba … Alio terbangun.
Alio langsung melihat kalau Olivia memegang gunting dan membungkuk padanya.
Pria itu sedikit mengernyit dan berkata dengan malas. "Apa yang kau lakukan?"
"Dokter Lay ada di sini, kami akan mengganti perban baru untuk lukamu." Olivia berkata dengan santai. "Mungkin akan sedikit menyakitkan."
Alio mencoba untuk tetap sadar dan terjaga. "Beri aku guntingnya dan kau pergilah!"
"Mengapa? Aku adalah asisten Dokter Lay, orang yang disuruh Dokter Lay, aku tidak bisa pergi sekarang." Olivia ingin tetap tinggal.
"Cukup keluarlah seperti yang aku minta!" Alio mengangkat tangannya untuk mengambil gunting dari tangan Olivia.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much And see you next chapter~